|
Agustus 19, 2008
Filed Under (Kebanggaan, Kiriman pembaca) by mimin suadmin
Semangat senasib sepenanggungan itu perlu dipelihara untuk menghadapi kerasnya perjuangan di tanah perantauan (baca: Jakarta). Maka orang-orang dari Kroya, Jawa Tengah, pun membuat kaos. Kalau pemakainya ngomong ngapak-ngapak (bahasa Jawa Banyumasan, bukan bandhek), maka besar kemungkinan dia dari sana.
Arti teks pada punggung adalah “Sama-sama di perantauan, marilah berkerabat”. Mbilung ikut? Ipoul juga?
Januari 14, 2008
![]() Marah pada suami tetapi ogah rugi? Iklankan saja, siapa tahu ada yang berminat membeli sang suami. Kaos bisa jadi media iklan luar ruang dan bebas pajak pula. Makin sering pemakai bepergian menyambangi tempat-tempat keramaian, peluang suami menjengkelkan itu untuk dibeli makin besar. Sebagai mana layaknya sebuah iklan, kelebihan barang jualan haruslah disebutkan. “Original owner, all paper work included, must sell …“ Iklan yang “jujur” jarang ditemui, begitu kata seorang teman dahulu. Sebagai sebuah barang, kaos juga perlu dirawat. Cara perawatan dicantumkan pada secarik kain kecil di dalam baju yang berisi petunjuk lengkap perawatan, seperti … jangan dikelantang, tulisan di baju jangan disetrika, jangan menggunakan klorin, lantas pada baris terakhir … do not covet thy neighbor’s husband. Setuju … beli aja dari pada diselingkuhi. |
|