|
Juli 16, 2008
Filed Under (Kebanggaan, Kiriman pembaca) by mimin suadmin
ngincer udah lama, jaman belom bisa beli pakai paypal tahun 2002-an . tapi jarang dipakai, soalnya gentar juga kalau nanti pas dipake trus didatengin pulisi trus disita, kan eman eman… alhasil sekarang masih kinyis kinyis disimpen rapih di lemari. baru dipakai kalau emang pengen banget pakai. (kiriman: godote.com)
Juli 01, 2008
Filed Under (Kebanggaan, Kiriman pembaca) by mimin suadmin
Orang hebat ada di mana-mana. Sayang orang terdekat — tepatnya yang berdiri di dekatnya — seringkali tak sadar. Maka orang hebat yang butuh pengakuan itu masih harus menyatakan diri melalui kaos.
Kaos ini milik seorang cewek Bandung yang mendapatkannya di Yogya, lalu dibawa berlibur ke Jakarta. Kalau tak salah, kaos terbikin oleh Jeliteng Jogja. Gaya “bintang kiri”-nya dari jauh cukup menggoda mata.
Tautan: kaos bintang 1 | kaos bintang 2
Juni 10, 2008
Filed Under (Kiriman pembaca) by mimin suadmin
Sempat meredup, ikon Mao Zedong di dunia fashion hidup lagi. Lihat saja di distro dan toko eksklusif di mal. Mungkin orang sudah bosan dengan potret Che. Yang belum banyak dibikin adalah Lenin dan Marx. Adapun Mao, pernah dipakai di banyak gaya, sejak print pada baju dalam pergeralaran busana sampai tema kafe.
Orang intelijen boleh curiga, tapi kalau ditelisik lebih dalam, sebagian besar pemakai “ikon kiri” itu tak peduli dengan ideologi. Bahkan ini semua adalah ironi: ikon yang antikapitalisme akhirnya cuma jadi komoditas. Jika menyangkut ideologi, maka pemakai pernik Nazi juga tak peduli soal isme. Yang penting keren, gaya, beda. Lantas setelah yang memakai terlalu banyak, maka pemakai awal sudah ogah mengenakannya. Kaos ini milik seorang cewek SMP, blogger juga. Dia mendapatkannya di sebuah clothing distro di Jakarta Selatan. Kata orang toko, “Kaos ini dari Hong Kong.” Entah benar entah bo’ong. Lantas apa bunyi teksnya? Penjual dan pembeli sama-sama tak paham. Harus mengontak Hong Kong nih.
Februari 12, 2008
Teksnya cukup mengulangi kaos bintang dari Bali. Intinya, pada penutup abad lalu itu simbol bintang jadi sexy lagi sehingga menjadi semacam ikon baru, cocok untuk dagangan, bisa untuk hadiah buat saya yang kere tapi dianggap percaya pada bintang merah, padahal tidak. Siapa kapitalisnya? Yang pasti bukan cK yang ini.
Februari 01, 2008
Filed Under (Hadiah) by Paman Tyo
Kaos ini sudah lama, saya dapatkan tahun 2000, oleh-oleh dari istri. Dia mendapatkannya di toko Tony Tantra, Bali. Saya suka gambarnya yang sangat “ngairbrush”. Lebih dari itu kaos ini berbahan katun yang nyaman. Saat itu, menjelang akhir 90-an, simbol bintang merah memang hidup lagi, jadi ikon di mana-mana. Bahkan Calvin Klein pun mencomotnya untuk beberapa serial kaosnya. Bintang merah, pada suatu masa, adalah bagian dari alam perlambang kaum proletar. Kemudian segala sesuatu yang popular (artinya: merakyat) itu terasa romantis, eksotis, dan sexy. Maka tak mengherankan bila kemudian kelas makmur pun mengadopsi gaya kekere-kerean itu. Pada gilirannya persoalannya bukan spirit kere, tapi romantisisme melawan apa yang mapan, yang kadung kuat, dan dianggap tak terkalahkan. Itu bisa negara, bisa korporat, bisa juga dominasi merek global. Muluk-muluk? Merek-merek mondial mengopernya. Che Guevara dan Mao bisa dicomot untuk fashion dan kafe. Yang kere tinggal beli bajakannya, tak peduli soal hak atas karya cipta dan royalti, karena yang dari rakyat sebaiknya kembali ke rakyat. Yang (sok) berduit? Tertawa sinis. NB: Mana yang lebih mengesalkan, kere yang sok kaya atau sugih yang sok melarat? |
|