|
April 21, 2008
Filed Under (Penuh kenangan) by OblongMan
Yang ini juga dari rumah desain Le Bo Ye di Kemang, Jakarta Selatan. Masih tentang korek api klasik yang pernah ada di Hindia Belanda. Bos Le Bo Ye, yaitu I. Hermawan Tanzil, memang kolektor produk cetakan jadul. Kaos ini berbahan katun agak tebal, nyaman, warnanya krem. Sayang harga kaos-kaos eksklusif itu di atas Rp 75.000…
Maret 24, 2008
Wenter atau wentol, Anda pernah dengar? Baiklah saya jelaskan. Itu bubuk pewarna untuk dicampur air mendidih, yang dipakai untuk merendam kain dan pakaian yang akan diwarnai. Memang itulah fashion orang tempo doeloe, dari zaman kesrakat (miskin). Cerita lain ada di sana. Lantas kenapa bisa pindah ke kaos? Seorang desainer grafis, namanya Enrico Halim, yang juga dosen seni rupa di Universitas Tarumanegara, memindahkan romantisisme itu ke dalam kaos untuk merintis museum desain grafis Indonesia.
Maret 23, 2008
Kaos krem hadiah dari adik saya ini menggunakan gambar jadul dari korek api antik. Pembuatnya adalah rumah desain Le Bo Ye, milik Hermawan Tanzil, salah satu desainer grafis terkemuka di Indonesia.
Januari 15, 2008
Filed Under (Aneh) by Paman Tyo
Mata Anda normal. Foto kaos ini pun tidak direkayasa supaya aneh. Memang desainnya yang bergaya cetak meleset seperti kemasan produk untuk rakyat zaman dulu. Gambar yang dipasang pada kaos itu adalah hasil pembesaran dari kertas bungkus sumba (pewarna makanan). Saya mendapatkan kaos ini gratis, bersama kaos lain yang sejenis, Desember 2007. Pembuatnya adalah Enrico Halim (Rico), desainer grafis yang dulu menerbitkan majalah gratis Aikon. Dia memberikannya saat pameran label dan kemasan di FSRD Universitas Tarumanegara. Di kampus itu dia mengajar. Bersama Arief Adityawan, juga dosen di jurusan desain komunikasi visual, Rico sedang merintis sebuah pusat studi desain kemasan dan label Indonesia. Semacam embrio museum, begitulah. Nah, kaos itu adalah kampanye sekaligus sumber dana awal. Sumber gambar untuk direpro? Tebak sendirilah. |
|