|
Juni 13, 2008
Filed Under (Plesetan) by Mpok Bina
Lagi-lagi kaos yang dipakai teman kantor, setelah yang ini. Sepintas seperti merek sebuah minuman terkenal, tapi ternyata tulisannya beda. Coba tebak, minuman apakah ituuuu…? Ya, pintaar… Kaos Papua ini konon diperoleh mbak pemakai (matur nuwun, Jeng Nur!) dari seorang rekan kantor yang tinggal di Papua. Sewaktu sang rekan bertugas ke Jakarta, inilah buah tangannya. Mungkin Anda pun pernah mengalaminya. Pertemanan yang sebelumnya terjalin hanya lewat saluran telepon jarak jauh, atau lewat dunia maya seperti yang semakin umum di zaman internet ini, jadi semakin akrab berkat sehelai kaos. Asyik juga kali ya, jalan-jalan ke Papua? Sayangnya, ongkos pesawat ke sana mahal sangat, dan jalur kereta api ke sana belum ada
April 19, 2008
Sepuluh tahun lebih saya bekerja di perusahaan penerbitan itu tak pernah ada yang tahu (tepatnya: peduli) ulang tahun saya. Itulah sebabnya saya selalu aman dari todongan. Pernah saya sudah menyiapkan uang sekadarnya, ternyata teman sekantor tak tahu. Tapi rasa aman itu akhirnya tamat. Pada ultah saya, tahun 2002 (ya, enam tahun lalu!), saya datang ke kantor sore. Memang ada niat mentraktir sekadarnya. Saya bilang, “Cah, ntar kita keluar, makan bareng yuk.” Tak ada tanggapan. Pada cuek. Ada yang terus ngegame (itu bagian dari pekerjaan). Ada yang tetap chatting (itu juga pekerjaan). Ada yang dengerin musik. Ada yang tidur. Yo wis, pikir saya. Kalau ndak mau ya syukur. Lantas saya keluar, ke kamar kecil. Terus ke unit lain entah ketemu siapa untuk sebuah urusan. Lalu saya kembali ke kantor kecil yang berjejal itu. Ketika saya masuk terdengarlah paduan suara, “Happy bitrhday Mase!” Mereka sudah pakai seragam berupa kaos baru. Lalu ada upacara kecil, dan saya menerima dua potong kaos (lengan pendek dan lengan panjang). Kaos itu khusus dibuat untuk merayakan ultah saya. Bikinnya pun jauh, di Temanggung, karena orangtua salah satu awak redaksi punya usaha konveksi. Saya tak pernah tahu persekongkolan itu, padahal ruang kami sangat sempit. Karung berisi kaos datang pun saya tak tahu. Lantas bagaimana kasak-kusuk persiapannya? Via messenger dan bisik-bisik saat saya tak berada di kantor — misalnya ketika ke kamar kecil. Salah satu kaos itu saya bingkai. Satunya masih saya pakai. Kaos itu bergambar seluruh awak redaksi. Terima kasih kawan-kawan!
April 15, 2008
Ngeblog memang bukan tren sesat, kok ![]() Tulisan ini dicolong dari blog saya sendiri. Salah Anda sendiri jika sudah membacanya di sana dan kini tertipu karena membaca lagi. Menyebalkan, ya? Begini, kemarin saya diundang ke acara peluncuran dagdigdug.com. Saya pikir ini peluncuran layanan blog hosting yang biasa saja. Selain mengganti wajah depan, acaranya pun saya nilai biasa saja: tidak ada entertainment, tidak ada selebriti. Tapi, ada yang luar biasa dari mereka. Apa itu? Apalagi kalo bukan sehelai kaos oblong.
Januari 16, 2008
![]() Sabar, sabar, sabar. Jangan keburu berkerut kening. Saya tak hendak mengadu domba dengan memanfaatkan sentimen wilayah peka. Nah kaos berkaligrafi Arab (tapi saya tak dapat membacanya) itu adalah bingkisan dari teman di kantor lama, namanya Hoho, sebagai oleh-oleh setelah mengunjungi tempat ziarah orang salibis eh palang eh Nasrani. Teman saya, seorang santri, namanya Mas Poniman, sambil senyum-senyum berkomentar dalam dialek Tegal, “Bos, kenapa juga yak itu kaos nyebut-nyebut Babe segala?” Lha mana saya tahu, kata saya. Saya cuma dikasih tahu oleh orang lain bahwa kaligrafi itu adalah Doa Bapa Kami. Bagi saya tak soal kalau idiom kristiani memakai bahasa Arab. Bukankah di Timur Tengah pun ada orang Nasrani? Itu sama saja dengan ekspresi keagamaan secara verbal dengan bahasa (dan aksara) lain kan? Maka entri kaos yang ini mestinya dijuduli “Kaos bebas-SARA”. ![]() |
|