|
Juli 28, 2008
Sekilas, dari jauh, kaos ini seperti memasang logo bir. Ternyata kaos SMA Gonzaga Jakarta. Pemakainya seorang gadis, alumna, sekarang sudah kuliah di Unika Atma Jaya Jakarta. Nama anak itu Grace Kartiko.
Februari 01, 2008
Filed Under (Hadiah) by Paman Tyo
Kaos ini sudah lama, saya dapatkan tahun 2000, oleh-oleh dari istri. Dia mendapatkannya di toko Tony Tantra, Bali. Saya suka gambarnya yang sangat “ngairbrush”. Lebih dari itu kaos ini berbahan katun yang nyaman. Saat itu, menjelang akhir 90-an, simbol bintang merah memang hidup lagi, jadi ikon di mana-mana. Bahkan Calvin Klein pun mencomotnya untuk beberapa serial kaosnya. Bintang merah, pada suatu masa, adalah bagian dari alam perlambang kaum proletar. Kemudian segala sesuatu yang popular (artinya: merakyat) itu terasa romantis, eksotis, dan sexy. Maka tak mengherankan bila kemudian kelas makmur pun mengadopsi gaya kekere-kerean itu. Pada gilirannya persoalannya bukan spirit kere, tapi romantisisme melawan apa yang mapan, yang kadung kuat, dan dianggap tak terkalahkan. Itu bisa negara, bisa korporat, bisa juga dominasi merek global. Muluk-muluk? Merek-merek mondial mengopernya. Che Guevara dan Mao bisa dicomot untuk fashion dan kafe. Yang kere tinggal beli bajakannya, tak peduli soal hak atas karya cipta dan royalti, karena yang dari rakyat sebaiknya kembali ke rakyat. Yang (sok) berduit? Tertawa sinis. NB: Mana yang lebih mengesalkan, kere yang sok kaya atau sugih yang sok melarat? |
|