Juli 01, 2008
Filed Under (Kebanggaan, Kiriman pembaca) by mimin suadmin

Orang hebat ada di mana-mana. Sayang orang terdekat — tepatnya yang berdiri di dekatnya — seringkali tak sadar. Maka orang hebat yang butuh pengakuan itu masih harus menyatakan diri melalui kaos. :D

soto babat campur kawat

Kaos ini milik seorang cewek Bandung yang mendapatkannya di Yogya, lalu dibawa berlibur ke Jakarta. Kalau tak salah, kaos terbikin oleh Jeliteng Jogja. Gaya “bintang kiri”-nya dari jauh cukup menggoda mata. ;)

soto babat campur kawat

Tautan: kaos bintang 1 | kaos bintang 2



Februari 12, 2008
Filed Under (Biasa, Hadiah) by Paman Tyo

kaos bintang merah calvin klein

Teksnya cukup mengulangi kaos bintang dari Bali. Intinya, pada penutup abad lalu itu simbol bintang jadi sexy lagi sehingga menjadi semacam ikon baru, cocok untuk dagangan, bisa untuk hadiah buat saya yang kere tapi dianggap percaya pada bintang merah, padahal tidak. Siapa kapitalisnya? Yang pasti bukan cK yang ini. :D



Februari 01, 2008
Filed Under (Hadiah) by Paman Tyo

Kaos ini sudah lama, saya dapatkan tahun 2000, oleh-oleh dari istri. Dia mendapatkannya di toko Tony Tantra, Bali. Saya suka gambarnya yang sangat “ngairbrush”. Lebih dari itu kaos ini berbahan katun yang nyaman.

Saat itu, menjelang akhir 90-an, simbol bintang merah memang hidup lagi, jadi ikon di mana-mana. Bahkan Calvin Klein pun mencomotnya untuk beberapa serial kaosnya.

Bintang merah, pada suatu masa, adalah bagian dari alam perlambang kaum proletar. Kemudian segala sesuatu yang popular (artinya: merakyat) itu terasa romantis, eksotis, dan sexy. Maka tak mengherankan bila kemudian kelas makmur pun mengadopsi gaya kekere-kerean itu.

Pada gilirannya persoalannya bukan spirit kere, tapi romantisisme melawan apa yang mapan, yang kadung kuat, dan dianggap tak terkalahkan. Itu bisa negara, bisa korporat, bisa juga dominasi merek global.

Muluk-muluk? Merek-merek mondial mengopernya. Che Guevara dan Mao bisa dicomot untuk fashion dan kafe. Yang kere tinggal beli bajakannya, tak peduli soal hak atas karya cipta dan royalti, karena yang dari rakyat sebaiknya kembali ke rakyat. Yang (sok) berduit? Tertawa sinis.

NB: Mana yang lebih mengesalkan, kere yang sok kaya atau sugih yang sok melarat?