April 20, 2008
Filed Under (Hadiah) by Paman Tyo

Kaos ini adalah buah tangan Didats ketika dia masih memburuh di Bali, tahun 2006. Sebelumnya dia kirim SMS menanyakan ukuran. Kemudian pada suatu hari kerja singgahlah di ke kantor saya di Kebonjeruk. Saat itu pula saya tunjukkan rancangan layout untuk blog di rumah baru dengan domain sendiri. Kisah selanjutnya sudah jelas. Perancangan dilakukan bersama, di Jakarta dan Denpasar.

Didats adalah satu dari sedikit blogger yang saya jumpai, bahkan saya mintai tolong, ketika saya belum berani menyatakan diri. Ketemu dia pertama itu singkat, tahun 2004/2005, di tangga teras kantornya, Jalan Jenderal Sudirman. Untuk sebuah acara, akhirnya Didats dan Golda dan Hericz mau turun tangan. Acaranya? Workshop untuk calon bloggers di Plaza Semanggi (2005)! Saya? Sebagai si “kere kemplu” ya cuma nonton. Pengecut bangetlah.

Ketika kontroversi RUU Antipornografi mengemuka, dan terkabar Bali akan memisahkan diri, maka saya kirim merek kaos ini ke teman saya orang Bali. “Bli, dari dulu Bali emang separatis kan?” :D



Februari 01, 2008
Filed Under (Hadiah) by Paman Tyo

Kaos ini sudah lama, saya dapatkan tahun 2000, oleh-oleh dari istri. Dia mendapatkannya di toko Tony Tantra, Bali. Saya suka gambarnya yang sangat “ngairbrush”. Lebih dari itu kaos ini berbahan katun yang nyaman.

Saat itu, menjelang akhir 90-an, simbol bintang merah memang hidup lagi, jadi ikon di mana-mana. Bahkan Calvin Klein pun mencomotnya untuk beberapa serial kaosnya.

Bintang merah, pada suatu masa, adalah bagian dari alam perlambang kaum proletar. Kemudian segala sesuatu yang popular (artinya: merakyat) itu terasa romantis, eksotis, dan sexy. Maka tak mengherankan bila kemudian kelas makmur pun mengadopsi gaya kekere-kerean itu.

Pada gilirannya persoalannya bukan spirit kere, tapi romantisisme melawan apa yang mapan, yang kadung kuat, dan dianggap tak terkalahkan. Itu bisa negara, bisa korporat, bisa juga dominasi merek global.

Muluk-muluk? Merek-merek mondial mengopernya. Che Guevara dan Mao bisa dicomot untuk fashion dan kafe. Yang kere tinggal beli bajakannya, tak peduli soal hak atas karya cipta dan royalti, karena yang dari rakyat sebaiknya kembali ke rakyat. Yang (sok) berduit? Tertawa sinis.

NB: Mana yang lebih mengesalkan, kere yang sok kaya atau sugih yang sok melarat?



Januari 13, 2008
Filed Under (Kebanggaan) by Ndoro Kakung

Sebagai blogger kurang gaul, tentu saja saya sering mengidam-idamkan bisa datang di acara bergengsi macam Ubud Readers and Writers Festival.

Apa daya, waktu sering tak berpihak. Jadilah mimpi itu lewat begitu sahaja tanpa saya sempat datang.

Kebetulan pada perhelatan terakhir tahun lalu, ada seorang kawan di pabrik yang beroleh kesempatan berangkat ke Ubud. Ia mau meliput acara itu.

Pucuk dicinta ulam tiba. Saya langsung meminta dia untuk mencari sesuatu — semacam memorabilia begitulah — yang berhubungan dengan acara asyik itu. Sebagai penanda, sebagai pengingat melawan lupa. Sebuah kaos mungkin?

Teman saya menyanggupi. “Buat sampean, pasti saya usahakan,” begitu janjinya.

Eh, benar saja. Sepulang kawan saya itu dari Ubud, di meja saya sudah terletak sebuah bungkusan. Dan, begitu saya buka … Voila!

Hati saya girang bukan kepalang. Di depan saya ada secarik kaos yang saya idam-idamkan itu. Ini bukan soal harganya. Bukan soal desainnya yang biasa-biasa saja. Buat saya, kaos ini menjadi berbeda karena ia penanda, bahwa sebuah acara pernah berlangsung.

Ia juga penanda sebuah janji yang ditepati. Saya bangga kepadanya.