|
07 Juli 2008 @ 16:31
Berapa sih usia Paman Donal? Tidak pernah sekalipun disebutkan di sekian banyak komik dan film kartunnya. Tapi, ah, siapa peduli? Berapa pun usianya, dia tetap lucu dan polos. Kaus ini melukiskan kekagetan Paman Donal yang setelah dewasa baru sadar, dia tak bercelana. Oalah. Sudut pandang manusia yang ingin memanusiakan hewan. Jadi ingat, dulu saya pernah ikut-ikut teman, memakaikan kaus bekas pada anjing kesayangan. Di mata saya dia jadi lucu, tapi dia nggak betah. Baru sebentar dipakai, kaus itu langsung digigit-gigit dan dilepaskan.
04 Juli 2008 @ 17:49
“Jangan jual tanah kita! Apalagi kalau sekadar hanya untuk membeli barang-barang yang bisa diproduksi oleh pabrik-pabrik secara massal!” Kaos bikinan Joger ini memberi imbauan yang sangat tepat untuk para petani di negeri agraris. Bisa juga ditambah, “apalagi jika tanah dijual untuk modal jadi tenaga kerja murah di luar negeri”. Akibat iming-iming calo tanah dan calo tenaga kerja, maupun tergugah setelah melihat para tetangga yang bisa membeli sepeda motor, kulkas atau sekadar mengganti lantai rumah dengan keramik, lama-kelamaan bisa menjadikan petani sebuah profesi langka. Seorang pencari investor pembukaan lahan untuk kebun kelapa sawit siap mencarikan tanah di ‘daerah’ buat calon investor yang cukup menanam mulai dari beberapa juta rupiah saja. Banyak orang awam tertarik. Saya ngeri membayangkan perusakan tanah yang diakibatkan monokultur penopang industri, hilangnya keragaman hayati untuk beberapa perak per meter persegi, juga kesadisan pembantaian orangutan dan fauna lain yang tergusur dari tempat tinggal demi kebun kelapa sawit. Mereka begitu mudahnya lupa, ribuan spesies yang ada dalam hutan tropis jauh lebih berharga daripada sekian meter kubik kayu atau sekian ton kelapa sawit. Menjual tanah membuat para petani kecil terusir ke kota, kehilangan akar dan keluhuran budaya. Petani berganti profesi menjadi kuli, sementara di negara agraris harga bahan pangan melonjak karena harus diimpor dari negara industri. PS : Petani bisa membela diri, “Bagaimana mau hidup bercocok tanam kalau harga bibit dan pupuk semakin mahal, karena harus diimpor?”
02 Juli 2008 @ 9:06
Posting lama di sebuah blog keroyokan itu masih bisa ditemukan oleh mesin pencari. Lalu muncullah di posting Ndoro Sontoloyo Sentulkenyut Mlekotho alias Den Bei Loring Pasar Ngobrok ing Kathok. Inilah yang jadi sumber tulisan: sebuah kaos bergambar penggembala bebek. Memang itulah arti sontoloyo. Karena posting itu ditulis dalam bahasa Jawa, maka di sini saya terjemahkan. Judulnya “Bajingan, Germo Sontoloyo!”
Kenapa waktu itu saya menulis dalam bahasa Jawa? Saya, saat itu, sedang menguji kemampuan mother tongue melalui teks, dan sebisa-bisanya dalam bahasa yang genah. Lumayan, masih bisa sedikit. Kaosnya bikinan siapa? Sarapan, Yogya. Iya, mereknya memang Sarapan. Sayang, gambar asli hilang. Kalau tak salah ingat, penjelasan dalam kaos itu menggunakan bahasa Inggris. BTW, apa arti semprul? Tanyakan ke semprulsontoloyo.com.
01 Juli 2008 @ 1:24
Orang hebat ada di mana-mana. Sayang orang terdekat — tepatnya yang berdiri di dekatnya — seringkali tak sadar. Maka orang hebat yang butuh pengakuan itu masih harus menyatakan diri melalui kaos.
Kaos ini milik seorang cewek Bandung yang mendapatkannya di Yogya, lalu dibawa berlibur ke Jakarta. Kalau tak salah, kaos terbikin oleh Jeliteng Jogja. Gaya “bintang kiri”-nya dari jauh cukup menggoda mata.
Tautan: kaos bintang 1 | kaos bintang 2
01 Juli 2008 @ 1:11
Hadiah, Kebanggaan, Kiriman pembaca, Penuh kenangan, events | kapstok: mimin suadmin (14 potong) | Rumah asal: mimin suadmin
Namanya juga rezeki. Vlisa bagi-bagi kaos untuk ultah blognya, eh suaminya, yaitu Yusro M.S., dapat kaos yang (kabarnya) cuma satu-satunya di Indonesia dalam peluncuran Firefox 3 Bahasa Indonesia di Senayan City. Maka mulai sekarang doronglah pasangan Anda masing-masing untuk bikin kaos blog.
|
|