Archive for the ‘Biasa’ Category

Maret 09, 2008
Filed Under (Biasa) by bangsari

“Besok mau oleh-oleh apa?”, tanya rekan kerja saya di kantor yang hendak ke luar negeri.
“Daripada bikin susah lu, mending ga usah aja deh. Ntar lu repot.”, jawab gue.

Begitulah. Oleh-oleh seolah menjadi barang wajib jika bepergian ke luar kota. Sepertinya menjadi bagian dari biaya perjalanan itu sendiri. Mungkin lebih tepat disebut pajak domestik.

Bagi saya yang tak pernah membiasakan oleh-oleh dari kecil, hal ini sangat menggangu. Menurut saya, oleh-oleh adalah bukti bahwa masyarakat kita cenderung menuntut atas orang lain yang lebih mampu. Mereka yang tak membawanya sering dianggap tidak umum, sebutan lain untuk pelit.

Diambil dengan scanner UMAX Astra 4100



Februari 12, 2008
Filed Under (Biasa) by Paman Tyo

Dulu ada pesohor hiburan namanya Che Chekirani. Saya pikir dia revolusioner, seperti Che Guevara maupun Ciehhh Gueparah. Ternyata entah. Tapi sebetulnya apa sih ukuran revolusioner? Cuma antikemapanan? Anti-orang-kaya?

Kalau ukurannya senaif itu maka tanggapan balik yang naif juga bisa mementahkan. Misalnya: apa seorang penikmat cerutu (yang setelah beredar luar Kuba pasti mahal) dan penyuka rolling thunder dengan brompit udhuk, berasal dari kelas makmur pula, bisa dibilang telah menyatu dengan para kere yang haus perubahan?

Lupakan sanggahan ngawur yang berpanjang kata itu. Lebih menarik cerita tentang kaos ini. Saya mendapatkannya delapan tahun silam di sebuah kios di Pasar Salatiga. Harganya Rp 25.000. Ajaib juga, saat itu saya belum terlalu gendut. :D

Mau gendut atau langsing (dari sisi pemakai), jika menyangkut Che maka urusannya adalah ikon yang dikomersialisasikan. Artinya, di mata pedagang dan konsumen, sosok Che tak beda dari Winnie the Pooh atau Hello Kitty. Persoalan berikutnya tinggal dijual mahal di tempat mentereng atau dijajakan murah di tempat kumuh.

Sekarang kaos itu dipakai oleh anaknya Ebess. :)



Februari 12, 2008
Filed Under (Biasa, Hadiah) by Paman Tyo

kaos bintang merah calvin klein

Teksnya cukup mengulangi kaos bintang dari Bali. Intinya, pada penutup abad lalu itu simbol bintang jadi sexy lagi sehingga menjadi semacam ikon baru, cocok untuk dagangan, bisa untuk hadiah buat saya yang kere tapi dianggap percaya pada bintang merah, padahal tidak. Siapa kapitalisnya? Yang pasti bukan cK yang ini. :D



Februari 09, 2008
Filed Under (Biasa) by Bude Denayanti

Photobucket

Saya udah lupa kapan tepatnya saya dapet kaos ini. Kaos ini dibagikan waktu jumpa pers Siti Nurhaliza sehari sebelum dia konser untuk nasabah Bank Mega Surabaya. Bank Mega mengundang Siti untuk menyanyi di hadapan nasabah yang punya saldo tabungan gede. Temen-temen saya mengira saya termasuk diantara yang punya duit banyak itu. Padahal ini kaos dum-duman alias gratisan. Hahaha mereka kan ngga tahu kalo saya reporter.



Januari 29, 2008
Filed Under (Biasa) by Paman Tyo

Akar kekerasan itu bagian dari pohon apa? Biarlah Pak Fromm dan Mas Pustaka Pelajar yang menjawab karena merekalah yang menjual kaos ini. Ah, yang bener?

Hehehe, kaos yang kini sudah kumal ini saya dapatkan di sebuah toko buku di Sagan, Yogyakarta, tahun 2000. Nama tokonya ya Pustaka Pelajar seperti nama penerbitnya. Penerbit buku dan kaos ya dia.

Kalau saya tak salah terka, penerbit dan toko ini adalah kelanjutan dari sebuah kios buku di Sasana Triguna (Shopping Center). Di sana dulu ada los buku murah, baik buku bekas maupun baru.

Salah satu penjual buku baru adalah milik, duh lupa namanya, kalau tak salah Mas Mas’ud. Diskonnya jelas. Umumnya 15-20% dari harga toko. Tak perlu tawar-menawar.

Mas Mas’ud dulunya penggelar buku dagangan di trotoar dekat Purosani. Kemudian dia pindah ke Sasana Triguna. Suatu kali, pada medio 80-an, sambil meladeni pembeli dia bilang, “Saya ini sudah mengalami mobilitas horizontal dan vertikal, Dik.”

Entah apa kata para penginap. Lho? Kalau malam sampai pagi, los buku itu menjadi tempat menginap tekyan, keple, dan kere — pokoknya kaum yang terpinggirkan dalam (atau dari?) tata ekonomi dan sosial kota.