Archive for the ‘Biasa’ Category

April 10, 2008
Filed Under (Biasa, Bisnis, Hadiah) by OblongMan

Ini saya dapatkan waktu pameran iklan Asia terbaik di Bentara Budaya, Jakarta, 2005, berkenaan dengan ulang tahun Kompas.



April 10, 2008
Filed Under (Biasa) by Mpok Bina

Kaos bikinan entah siapa, dikenakan oleh rekan sekerja saya yang memang terkenal sabar meskipun badannya tidak subur. Lho, memangnya ada hubungan antara kesabaran dan kesuburan (badan)?

Apa ada hubungannya juga dengan dugaan, eh, tuduhan orang jadul bahwa orang pemarah biasanya kurus? Entah apa pula pendapat mereka jika melihat anak-anak gaul jaman sekarang yang lebih suka berbodi gantungan kunci, dengan harapan bukan anoreksik. Moga-moga tetap sabar dengan apa pun pilihan mereka, karena konon orang sabar disayang Tuhan.



Maret 16, 2008
Filed Under (Biasa) by Sir Mbilung MacNdobos

Tempat di mana cinta sejati bersemayam, tergantung jenis kelamin. Begitu yang terjadi di Bandung, paling tidak bagi pembuat rancangan kaos.



Maret 09, 2008
Filed Under (Biasa) by bangsari

“Besok mau oleh-oleh apa?”, tanya rekan kerja saya di kantor yang hendak ke luar negeri.
“Daripada bikin susah lu, mending ga usah aja deh. Ntar lu repot.”, jawab gue.

Begitulah. Oleh-oleh seolah menjadi barang wajib jika bepergian ke luar kota. Sepertinya menjadi bagian dari biaya perjalanan itu sendiri. Mungkin lebih tepat disebut pajak domestik.

Bagi saya yang tak pernah membiasakan oleh-oleh dari kecil, hal ini sangat menggangu. Menurut saya, oleh-oleh adalah bukti bahwa masyarakat kita cenderung menuntut atas orang lain yang lebih mampu. Mereka yang tak membawanya sering dianggap tidak umum, sebutan lain untuk pelit.

Diambil dengan scanner UMAX Astra 4100



Februari 12, 2008
Filed Under (Biasa) by Paman Tyo

Dulu ada pesohor hiburan namanya Che Chekirani. Saya pikir dia revolusioner, seperti Che Guevara maupun Ciehhh Gueparah. Ternyata entah. Tapi sebetulnya apa sih ukuran revolusioner? Cuma antikemapanan? Anti-orang-kaya?

Kalau ukurannya senaif itu maka tanggapan balik yang naif juga bisa mementahkan. Misalnya: apa seorang penikmat cerutu (yang setelah beredar luar Kuba pasti mahal) dan penyuka rolling thunder dengan brompit udhuk, berasal dari kelas makmur pula, bisa dibilang telah menyatu dengan para kere yang haus perubahan?

Lupakan sanggahan ngawur yang berpanjang kata itu. Lebih menarik cerita tentang kaos ini. Saya mendapatkannya delapan tahun silam di sebuah kios di Pasar Salatiga. Harganya Rp 25.000. Ajaib juga, saat itu saya belum terlalu gendut. :D

Mau gendut atau langsing (dari sisi pemakai), jika menyangkut Che maka urusannya adalah ikon yang dikomersialisasikan. Artinya, di mata pedagang dan konsumen, sosok Che tak beda dari Winnie the Pooh atau Hello Kitty. Persoalan berikutnya tinggal dijual mahal di tempat mentereng atau dijajakan murah di tempat kumuh.

Sekarang kaos itu dipakai oleh anaknya Ebess. :)