Archive for the ‘Plesetan’ Category

Januari 21, 2008
Filed Under (Plesetan) by Iman Brotoseno

Ketika saya memasuki Circle Key Jl. Cikajang , dekat Pasar Santa. Para pemuda pemudi generasi penerus bangsa yang leyeh leyeh di lantai teras - sambil makan kacang dan bergaya minum bir kaleng - melirik tersenyum ke saya. Ini mungkin karena kaos yang saya pakai. Tentu saja kaos Vegetarian Club ini bukan kaosnya Sophia Latjuba yang baru baru saja memproklamirkan sebagai pemakan non daging.
Ini kaos yang saya beli di Bali, persis sebelah restaurant di legian yang menawarkan menu Mushrom bali yang tersohor itu.
Jangan jangan remaja circkle key tersebut menduga saya sebagai pemakai. Mungkin mereka ingin bertanya “ Ada barang nggak ? “.

Bagi sebagian kalangan pengguna barang ini, ada rasa kebanggaan.
“ Kami pemakai hasil alam, tumbuh tumbuhan bukan barang racikan kimia atau alkohol “
Saya mengakui memang pernah mencicipi asap ini.
Waktu itu di padepokan seniman besar. Disana ada musisi besar, konglomerat dan ada ustad besar juga.
“ Lho ustad kok nyimeng ? “
Sudah tidak usah buat gossip, yang jelas seingat saya rasanya biasa saja seperti rokok dan sepertinya saya jadi senang tersenyum senyum saja. Itu saja.
Sementara saya kini menikmati barang ini hanya di restaurant Aceh – sebagai campuran ramuan bumbu - di Bendungan hilir yang rasanya benar benar ‘come fly with me ‘.



Januari 19, 2008
Filed Under (Plesetan) by Iman Brotoseno

Kaos ini memang sudah lama., yang muncul pada masa masa reformasi 1998 – 1999. Sudah turun pangkat menjadi baju tidur, karena memang enak. Bukan karena serasa mengeloni mbak tutut atau memimpikan eyang Soeharto. Tapi memang gambaran yang ada di sini menjadi tuntuan refleksi sebuah jaman. Jangan salah bahwa hampir sepuluh tahun itu tuntutan masih terus relevan. Sampai hari ini. Ketika suara suara keras meminta proses hukum terhadap Soeharto beradu gempita dengan suara suara yang meminta agar ia dimaafkan.

“ Saving Private Asset “ yang dibuat oleh sebuah lembaga Nirlaba KKN – Kaos Kritis Nasional memang menjadi potret buram negeri ini. Sebuah negeri ketoprak yang penuh dengan adegan sandiwara nggak mutu.
Saya tidak yakin kalau mereka yang mendisain ‘ Kaos Kritis Nasional ‘ masih eksis hari ini. Jangan jangan mereka sudah tidur nyenyak menjadi anggota DPR setelah sukses menggulingkan orde baru. Sama tidak yakinnya kalau penyelesaian kasus Hukum Soeharto akan memuaskan rakyat. Wong, Jaksa Agung sudah menghadap keluarga Cendana dan menjanjikan penyelesaian ‘ win win solution ‘.
Maksudnya ????



Januari 16, 2008
Filed Under (Plesetan) by Iman Brotoseno

Banyak orang mengira istilah Mak Nyuss gara gara celotehan Bondan Winarno. Padahal hampir lima belas tahun yang lalu, pakde Umar Kayam sudah sering mempopulerkan ekspresi itu dalam kolomnya di Harian Kedaulatan Rakyat, Jogja.
Saya selalu percaya Mak Nyuss itu baru terasa jika masakan diolah melalui suatu ritual proses memasak. Sesederhana apapun juga. Jadi kalau membandingkan ayam goreng Mbok Berek yang dimasak dengan kayu bakar, terus nunggu matang dua puluh menit, bahkan molor setengah jam. Jelas beda dengan ayam goreng siap saji yang langsung dicemplungkan dalam minyak panas bersuhu 500 derajat. Inilah yang dibanggakan oleh waralaba waralaba makanan siap saji. Dalam 2 menit masakan siap matang.

Budaya fast food membuat gegar budaya bagi sebagian orang. Wong waktu saya kecil kalau diajak bapak ibu ke rumah makan, ya harus nunggu. Mungkin di situlah letak nikmatnya, kita sekeluarga bisa ngobrol ngobrol sambil hidung kembang kempis mencium aroma masakan dari dapur restaurant Yong kee depan stasiun kereta Pasar Minggu.
Cilokonya, anak anak saya tidak pernah suka makan di tempat yang harus menunggu. Disamping bosan menunggu. Juga toko buku Gramedia atau Time zone harus buru buru disambangi setelah mengunyah makanan.
Ya sudah , bukankan kita harus mengalah kepada precil precil yang bakal mewarisi kedaulatan keluarga kita ? walau rasanya mendem, kita bergaya menjadi ikon ikon manusia modern menikmati ayam goreng dan kentang.
Rasanya ? Ya nggak mak nyuss..tapi mak shit.



Januari 16, 2008
Filed Under (Kampanye, Kebanggaan, Lucu, Plesetan) by Paman Tyo

Kaos ini kocak dan ngeledek semua bloggers. BHI, pembuatnya, memang kreatif. Saya nggak tahu sudah berapa potong yang terdistibusikan. Pemakainya, tentu saja, ya kaum bloggers yang diledek dan meledek diri sendiri itu.

Tentang BHI, bagi saya, kalau mau pakai istilah gagah, adalah “fenomenal”. Memang di setiap kota, dan di antara perkawanan bloggers, selalu ada komunitas dan ajang kopdar; tapi BHI memberikan sesuatu yang lain. Kumpulan orang cangkruk (kongko) ini mengambil tempat di depan Plaza Indonesia, di trotoar.

Siapa pun boleh datang dan bergabung. Beberapa bloggers luar kota menjadikannya sebagai target kunjungan. Belum jadi blogger kalau Anda ke Jakarta tanpa menyambangi mereka. :)

Welcome to BHI!



Januari 16, 2008
Filed Under (Lucu, Plesetan) by Sir Mbilung MacNdobos

Batman, si manusia kampret rekaan Bob Kane dan Bill Finger ceritanya memiliki bentuk tubuh yang yahud. Yahud atau tak yahud, bentuk tubuhnya mengingatkan saya pada bancet malang di petak sembilan Jakarta yang siap dijadikan santapan.

Jika Batman lantas pensiun, entah karena faktor usia atau karena kejahatan sudah habis, maka kegemukanlah yang menyergapnya. Itu khayalan saya. Apakah setelah pensiun Batman bisa menghilangkan kebiasaannya memakai celana dalam di luar? Bertanyalah pada Fatman.