Archive for the ‘Plesetan’ Category

April 15, 2008
Filed Under (Hadiah, Kampanye, Plesetan, events) by jalansutera

Ngeblog memang bukan tren sesat, kok

Tulisan ini dicolong dari blog saya sendiri. Salah Anda sendiri jika sudah membacanya di sana dan kini tertipu karena membaca lagi. Menyebalkan, ya?

Begini, kemarin saya diundang ke acara peluncuran dagdigdug.com. Saya pikir ini peluncuran layanan blog hosting yang biasa saja. Selain mengganti wajah depan, acaranya pun saya nilai biasa saja: tidak ada entertainment, tidak ada selebriti. Tapi, ada yang luar biasa dari mereka.

Apa itu? Apalagi kalo bukan sehelai kaos oblong.

Read the rest of this entry »



Maret 24, 2008
Filed Under (Aneh, Lucu, Plesetan) by Paman Tyo

Cukup beli satu kaos serasa punya dua kaos. Kok bisa? Kaos bikinan Maha Nagari, Bandung, ini bisa dipakai bolak-balik. Kalau yang luar kotor, maka kaos dibalik, lalu dipakai lagi. Zap! Bagian dalam jadi di luar. Lho, bukannya bagian dalam juga kotor karena ramuan keringat, debu, dan daki? Itu lain perkara. Pokoknya bisa side A dan side B. Maaf tidak berlaku untuk pakaian dalam. Nggilani.

Jadi, ketika memakainya, sebagai orang Bandung, kenakanlah secara default. Lantas seturun dari kereta api di Stasiun Gambir, atau setelah keluar dari jalan tol JORR di Pondok Indah, baliklah kaos itu. “Keur di Jakarta” itu kunaon? “Sekarang di Jakarta”.



Maret 19, 2008
Filed Under (Hadiah, Lucu, Plesetan) by Paman Tyo

Ini kiriman Miss Mbak Mpokb. Sudah lama sih. Kaosnya masih terawat. Terbikin oleh Ojie Oblong, Jakarta. Apakah Mpokb pernah mbecak? Pernah, sebagai penumpang. Apakah abang becaknya gagah perkakas tampan bergizi? Waaa saya ndak tahu.



Februari 09, 2008
Filed Under (Plesetan) by Mpok Bina

Sementara di kaki lima banyak kaos yang berdesain jiplakan kaos “Hard Rock Cafe”, maka ojie oblongmemelesetkannya menjadi “Bandrek Jahe”. Tulisannya enak dilihat dan kocak buat saya. Kalau ada orang lain yang membacanya dan ikut tertawa, tentu itu lebih baik daripada membaca lantas merengut atau menggerutu.

Adakah juragan akan yang menyediakan menu bandrek di kafe? Bandrek, minuman penghangat badan yang terbuat dari jahe, gula merah dan rempah-rempah lain, entah apakah masih bisa populer setelah “jalma kiwari” terbiasa dengan minuman ringan bersoda, teh hijau berkalori rendah, minuman pembikin bugar atlet atau kopi yang menjadi genit setelah diangkat lewat budaya ngopi di kafe. Klaim pada kaos bahwa bandrek adalah minuman asli Betawi juga bisa diperdebatkan, karena di daerah-daerah lain di Indonesia pun bisa ditemukan berbagai minuman berbahan dasar jahe.

Minuman tradisional selain bandrek yang dikenal di daerah Jawa Barat adalah bajigur, terbuat dari campuran santan cair dan sedikit kopi. Hingga kini, sebagian besar penduduk Kota Hujan Bogor masih sering melihat penjaja bandrek keliling dengan pikulan. Selain bandrek atau bajigur, si penjaja juga menjual makanan penangsel perut semacam ubi rebus atau pisang rebus. Di Bogor juga, tepatnya di belakang bekas Bioskop Sukasari, Jl. Siliwangi yang perpanjangan Jl. Suryakencana (dulunya bernama Jl. Perniagaan) ada daerah bernama Warban, singkatan dari Warung Bandrek. Entah apakah memang pernah ada warung bandrek yang begitu tersohor di sana.

Di musim hujan yang dingin, minumlah bandrek. Tidak perlu mabuk untuk merasakan kenikmatan dan kehangatan dunia :P Duh, ini posting kaos kok malah ngomongin bandrek yak?



Januari 21, 2008
Filed Under (Plesetan) by Iman Brotoseno

Ketika saya memasuki Circle Key Jl. Cikajang , dekat Pasar Santa. Para pemuda pemudi generasi penerus bangsa yang leyeh leyeh di lantai teras - sambil makan kacang dan bergaya minum bir kaleng - melirik tersenyum ke saya. Ini mungkin karena kaos yang saya pakai. Tentu saja kaos Vegetarian Club ini bukan kaosnya Sophia Latjuba yang baru baru saja memproklamirkan sebagai pemakan non daging.
Ini kaos yang saya beli di Bali, persis sebelah restaurant di legian yang menawarkan menu Mushrom bali yang tersohor itu.
Jangan jangan remaja circkle key tersebut menduga saya sebagai pemakai. Mungkin mereka ingin bertanya “ Ada barang nggak ? “.

Bagi sebagian kalangan pengguna barang ini, ada rasa kebanggaan.
“ Kami pemakai hasil alam, tumbuh tumbuhan bukan barang racikan kimia atau alkohol “
Saya mengakui memang pernah mencicipi asap ini.
Waktu itu di padepokan seniman besar. Disana ada musisi besar, konglomerat dan ada ustad besar juga.
“ Lho ustad kok nyimeng ? “
Sudah tidak usah buat gossip, yang jelas seingat saya rasanya biasa saja seperti rokok dan sepertinya saya jadi senang tersenyum senyum saja. Itu saja.
Sementara saya kini menikmati barang ini hanya di restaurant Aceh – sebagai campuran ramuan bumbu - di Bendungan hilir yang rasanya benar benar ‘come fly with me ‘.