Archive for the ‘Penuh kenangan’ Category

Juni 06, 2008
Filed Under (Dewasa, Hadiah, Kiriman pembaca, Lucu, Memalukan, Penuh kenangan) by mimin suadmin

Kaos ini didapat bukan di mal adem mentereng tapi di sebuah toko serba-ada yang dikelilingi pasar becek. Pemiliknya adalah seorang blogger tersohor, bukan hanya lantaran nama diri dan titel blognya melainkan juga isi postingnya yang bisa melumerkan hati para wanita. Maka demikianlah adanya. Semoga maklum kiranya. :D

yah gitu deh



Mei 07, 2008
Filed Under (Aneh, Memalukan, Penuh kenangan) by Paman Tyo

Aha! Silakan tertawa. Ini kaosnya sekelompok orang tua, dibikin sekitar 30 potong, untuk sebuah reuni tiga tahun lalu. Sebagian peserta sudah belasan tahun tak bersua. Ada yang doktor, ada yang masih berstatus eks-pedro (pemuda drop out).

Ketika bertemu mereka sudah jadi bapak dan emak. Umumnya pada membawa tambahan lemak. Daging pipi pembalut rahang sudah mengendur. Kelopak mata sudah berkantung. Kacamata sudah plus. Perut seolah membawa tas pinggang. Ada yang datang membawa pengawal (maklum politikus), eh ternyata anaknya. Yang kawin muda punya anak sudah dewasa. Yang kawin telat anaknya masih SD. Yang masih betah melajang ya belum punya anak.

Ah sudahlah. Itu masalah internal.Tidak penting — tapi itu natural, untuk siapa pun. :D

kaos reuni

Lebih penting cerita tentang desain kaos ini. Ternyata susah membuat kaos untuk orangtua. Ketika si desainer mencoba memindahkan gaya visual zaman majalah Aktuil (tahun 70-an, ketika mereka masih ABG), uh hasilnya mirip kaos-kaos yang saat itu (2005) dijual di distro. Bisa bikin malu, dituduh tak tahu diri.

Akhirnya dicobalah gaya awal sampai pertengahan 80-an. Desktop publishing belum meluas, Rugos masih jadi mainan. Sablonan masih cenderung rata — belum model gradasi dan raster.

Yang menjadikan kaos kasepuhan itu tampak “modern” adalah atribut yang mewakili internet. :D

Soal lain? Karena mendatangi reuni ini saya untuk pertama kali bertemu Bahtiar, Lantip, dan Pito. Saya, waktu itu, masih jadi orang lain. :D  Tentu saya ketemu mereka di luar acara, wong beda generasi. :D



April 26, 2008
Filed Under (Hadiah, Penuh kenangan) by Paman Tyo

Kaos ini masih ada. Kemarin saya temukan di lemari lalu saya foto. Baru saya pakai sekali, waktu acara berlangsung, lima tahun silam. Ukurannya kelewat ngepres di badan. Ini hanya satu dari sejumlah atribut dalam gelaran di beberapa kota yang pernah dibikin oleh (eks-)kantor saya.

Warna oranye saya suka. Cerah. Optimistis dan aktif, kata entah siapa. Tapi kemarin kaos ini menjadi penebal melankoli. Untuk pertama kalinya sejak kami bubar dan terdiaspora tahun lalu, beberapa teman mengajak saya konferensi di Y!M. Reuni maya penuh canda dan ledekan. Yang tak muncul di teks selama chatting dengan koneksi byar-pet adalah galau saya. Ada semacam rasa bersalah atau apa. Mereka seolah hadir senyatanya. Aneh, padahal ketika bertemu di dunia nyata kami santai saja. Maafkan saya teman-teman.

*) Tiba-tiba saya ingat tentang keluarga Darmawan Supratisto (supratisto.com), peserta yang menjadi “juara” dalam sebuah gelaran kami. Di kemudian hari, pada suatu nahas, seisi rumah terpanggang dalam rumah yang semua jendelanya berjeruji. Mereka mengontrak rumah itu untuk tempat mengungsi selagi rumah asli direnovasi. Keluarga itu punah. Ayah, ibu, dan dua anak…



April 21, 2008
Filed Under (Penuh kenangan) by OblongMan

Yang ini juga dari rumah desain Le Bo Ye di Kemang, Jakarta Selatan. Masih tentang korek api klasik yang pernah ada di Hindia Belanda. Bos Le Bo Ye, yaitu I. Hermawan Tanzil, memang kolektor produk cetakan jadul. Kaos ini berbahan katun agak tebal, nyaman, warnanya krem. Sayang harga kaos-kaos eksklusif itu di atas Rp 75.000…

kaos korek api le bo ye jakarta



April 19, 2008
Filed Under (Hadiah, Kebanggaan, Penuh kenangan) by Paman Tyo

kaos tyo dari teman-temin di komputerakt!f

Sepuluh tahun lebih saya bekerja di perusahaan penerbitan itu tak pernah ada yang tahu (tepatnya: peduli) ulang tahun saya. Itulah sebabnya saya selalu aman dari todongan. Pernah saya sudah menyiapkan uang sekadarnya, ternyata teman sekantor tak tahu.

Tapi rasa aman itu akhirnya tamat. Pada ultah saya, tahun 2002 (ya, enam tahun lalu!), saya datang ke kantor sore. Memang ada niat mentraktir sekadarnya. Saya bilang, “Cah, ntar kita keluar, makan bareng yuk.”

Tak ada tanggapan. Pada cuek. Ada yang terus ngegame (itu bagian dari pekerjaan). Ada yang tetap chatting (itu juga pekerjaan). Ada yang dengerin musik. Ada yang tidur.

Yo wis, pikir saya. Kalau ndak mau ya syukur. Lantas saya keluar, ke kamar kecil. Terus ke unit lain entah ketemu siapa untuk sebuah urusan. Lalu saya kembali ke kantor kecil yang berjejal itu.

Ketika saya masuk terdengarlah paduan suara, “Happy bitrhday Mase!” Mereka sudah pakai seragam berupa kaos baru. Lalu ada upacara kecil, dan saya menerima dua potong kaos (lengan pendek dan lengan panjang).

Kaos itu khusus dibuat untuk merayakan ultah saya. Bikinnya pun jauh, di Temanggung, karena orangtua salah satu awak redaksi punya usaha konveksi.

Saya tak pernah tahu persekongkolan itu, padahal ruang kami sangat sempit. Karung berisi kaos datang pun saya tak tahu. Lantas bagaimana kasak-kusuk persiapannya? Via messenger dan bisik-bisik saat saya tak berada di kantor — misalnya ketika ke kamar kecil.

Salah satu kaos itu saya bingkai. Satunya masih saya pakai. Kaos itu bergambar seluruh awak redaksi. Terima kasih kawan-kawan!