Archive for the ‘Lucu’ Category

Mei 02, 2008
Filed Under (Kampanye, Lucu, Plesetan) by OblongMan

Kaos ini saya dapatkan menjelang Pemilu 2004. Terbikin oleh Dagadu, Yogyakarta. Gayanya retro. Isinya ya khas Dagadu, pelesetan yang “ngyojani”. :D Tapi kayaknya ejaan “spanneng” itu salah. Mestinya “spanning” (Belanda, dibaca “spaneng”; artinya tegang, tegangan)

kaos partai senyum, partai gurem



April 16, 2008
Filed Under (Biasa, Lucu) by Venus

Gambar diambil pas lagi ngumpul sama temen-temen bloger di rumah Mbilung di Bogor. Gak ngerti di mana lucunya (atau anehnya). Kaosnya biasa-biasa aja sih, cuma karena yang pakai kaos ini temen saya, dan tulisannya agak-agak mengundang, jadi ya….gitu lah, diupload aja.

Emang free and easy artinya apa? Bukan ‘gratis dan gampangan’ kan, ya? Uhuk uhuk….



Maret 28, 2008
Filed Under (Kebanggaan, Lucu) by Ndoro Kakung

Ini kisah kaos kiriman Silent Reverie

Pernah terjerat cinta monyet? Sudah lama aku dan adikku mengalami cinta monyet, tapi dalam arti sesungguhnya. We love monkey. Aku dan adikku suka sekali dengan binatang yang satu ini karena tampangnya kocak dan innocent. Jika tertawa, mulutnya lebar, spontan, juga tulus.

Kaos putih itu kubeli karena gambarnya mengusik perhatianku, bukan karena ukurannya yang XL. Aku nggak peduli ukurannya, walaupun aku tahu kaos itu kedodoran untuk tubuhku yang seuprit dan kesempitan buat adikku yang berbadan giant.

Tampak di kaos itu ayah, ibu dan anak monyet yang merupakan satu keluarga harmonis. Lihatlah ekspresi ayah dan ibu monyet yang serius tapi lugu sambil agak-agak tersenyum simpul, sedangkan anaknya bergaya manis manja. Seperti foto keluarga yang biasa dipajang di ruang tamu. Ah, mesranya mereka! Read the rest of this entry »



Maret 24, 2008
Filed Under (Aneh, Lucu, Plesetan) by Paman Tyo

Cukup beli satu kaos serasa punya dua kaos. Kok bisa? Kaos bikinan Maha Nagari, Bandung, ini bisa dipakai bolak-balik. Kalau yang luar kotor, maka kaos dibalik, lalu dipakai lagi. Zap! Bagian dalam jadi di luar. Lho, bukannya bagian dalam juga kotor karena ramuan keringat, debu, dan daki? Itu lain perkara. Pokoknya bisa side A dan side B. Maaf tidak berlaku untuk pakaian dalam. Nggilani.

Jadi, ketika memakainya, sebagai orang Bandung, kenakanlah secara default. Lantas seturun dari kereta api di Stasiun Gambir, atau setelah keluar dari jalan tol JORR di Pondok Indah, baliklah kaos itu. “Keur di Jakarta” itu kunaon? “Sekarang di Jakarta”.



Maret 24, 2008
Filed Under (Hadiah, Lucu, Penuh kenangan) by Paman Tyo

Wenter atau wentol, Anda pernah dengar? Baiklah saya jelaskan. Itu bubuk pewarna untuk dicampur air mendidih, yang dipakai untuk merendam kain dan pakaian yang akan diwarnai. Memang itulah fashion orang tempo doeloe, dari zaman kesrakat (miskin). Cerita lain ada di sana. Lantas kenapa bisa pindah ke kaos? Seorang desainer grafis, namanya Enrico Halim, yang juga dosen seni rupa di Universitas Tarumanegara, memindahkan romantisisme itu ke dalam kaos untuk merintis museum desain grafis Indonesia.