Author Archive

Juli 02, 2008
Filed Under (Dari blog lain) by Paman Tyo

Posting lama di sebuah blog keroyokan itu masih bisa ditemukan oleh mesin pencari. Lalu muncullah di posting Ndoro Sontoloyo Sentulkenyut Mlekotho alias Den Bei Loring Pasar Ngobrok ing Kathok. Inilah yang jadi sumber tulisan: sebuah kaos bergambar penggembala bebek. Memang itulah arti sontoloyo.

Karena posting itu ditulis dalam bahasa Jawa, maka di sini saya terjemahkan. Judulnya “Bajingan, Germo Sontoloyo!”

“Maafkanlah saya jika membuat Anda risih karena saya mengumpat, mengumbar kata tak sopan. Tapi nanti dulu. Pada mulanya bajingan itu berarti kusir pedati, sehingga kusir pengganti disebut sedang ‘mbajing’.

“Adapun sontoloyo itu berarti penggembala bebek. Itulah sebabnya mengapa ada ungkapan, ‘Sontoloyo menggembalakan bebek hilang dua’.

“Sedangkan germo, itu berarti pemburu harimau. Entahlah sejak kapan germo akhirnya berarti juragannya pelacur.

“Pun belum jelas mengapa bajingan bisa berarti kaum yang sebangsa pencuri, begal, dan perampok, lantas setelahnya menjadi makian kasar. Begitu pula sontoloyo yang akhirnya menjadi umpatan yang tak terlalu kasar.”

Kenapa waktu itu saya menulis dalam bahasa Jawa? Saya, saat itu, sedang menguji kemampuan mother tongue melalui teks, dan sebisa-bisanya dalam bahasa yang genah. Lumayan, masih bisa sedikit.

Kaosnya bikinan siapa? Sarapan, Yogya. Iya, mereknya memang Sarapan. Sayang, gambar asli hilang. Kalau tak salah ingat, penjelasan dalam kaos itu menggunakan bahasa Inggris.

BTW, apa arti semprul? Tanyakan ke semprulsontoloyo.com.



Juli 01, 2008
Filed Under (Hadiah, events) by Paman Tyo

Bukan ultah blogger-nya tapi ultah blognya. Baru eh sudah setahun. Beruntung saya dapat jatah. :D Selamat, Bu Ventura Elisawati! Semoga tetap bermurah hati. Peminat kaos silakan menghubungi beliau, langsung, tanpa perantara. :D

hore dapat jatah!



Mei 19, 2008
Filed Under (Hadiah) by Paman Tyo

Ini dia kaosnya blogger Tangerang: Bloger Benteng!

Saya mendapatkannya dari Mister Caplang, yang memberikan dengan tergesa, seolah yang penting kiriman sampai dengan selamat ke tujuan, kalau yang menerima mau berterima kasih itu bukan tujuan, kayak prinsip perusahaan kurir kelas wahid saja.

Kenapa namanya “benteng”? Nama lain (lama) Tangerang memang Benteng, makanya ada istilah “Cina Benteng”. Terima kasih, Mister!

kaos blogger benteng tangerang



Mei 07, 2008
Filed Under (Aneh, Memalukan, Penuh kenangan) by Paman Tyo

Aha! Silakan tertawa. Ini kaosnya sekelompok orang tua, dibikin sekitar 30 potong, untuk sebuah reuni tiga tahun lalu. Sebagian peserta sudah belasan tahun tak bersua. Ada yang doktor, ada yang masih berstatus eks-pedro (pemuda drop out).

Ketika bertemu mereka sudah jadi bapak dan emak. Umumnya pada membawa tambahan lemak. Daging pipi pembalut rahang sudah mengendur. Kelopak mata sudah berkantung. Kacamata sudah plus. Perut seolah membawa tas pinggang. Ada yang datang membawa pengawal (maklum politikus), eh ternyata anaknya. Yang kawin muda punya anak sudah dewasa. Yang kawin telat anaknya masih SD. Yang masih betah melajang ya belum punya anak.

Ah sudahlah. Itu masalah internal.Tidak penting — tapi itu natural, untuk siapa pun. :D

kaos reuni

Lebih penting cerita tentang desain kaos ini. Ternyata susah membuat kaos untuk orangtua. Ketika si desainer mencoba memindahkan gaya visual zaman majalah Aktuil (tahun 70-an, ketika mereka masih ABG), uh hasilnya mirip kaos-kaos yang saat itu (2005) dijual di distro. Bisa bikin malu, dituduh tak tahu diri.

Akhirnya dicobalah gaya awal sampai pertengahan 80-an. Desktop publishing belum meluas, Rugos masih jadi mainan. Sablonan masih cenderung rata — belum model gradasi dan raster.

Yang menjadikan kaos kasepuhan itu tampak “modern” adalah atribut yang mewakili internet. :D

Soal lain? Karena mendatangi reuni ini saya untuk pertama kali bertemu Bahtiar, Lantip, dan Pito. Saya, waktu itu, masih jadi orang lain. :D  Tentu saya ketemu mereka di luar acara, wong beda generasi. :D



April 26, 2008
Filed Under (Hadiah, Penuh kenangan) by Paman Tyo

Kaos ini masih ada. Kemarin saya temukan di lemari lalu saya foto. Baru saya pakai sekali, waktu acara berlangsung, lima tahun silam. Ukurannya kelewat ngepres di badan. Ini hanya satu dari sejumlah atribut dalam gelaran di beberapa kota yang pernah dibikin oleh (eks-)kantor saya.

Warna oranye saya suka. Cerah. Optimistis dan aktif, kata entah siapa. Tapi kemarin kaos ini menjadi penebal melankoli. Untuk pertama kalinya sejak kami bubar dan terdiaspora tahun lalu, beberapa teman mengajak saya konferensi di Y!M. Reuni maya penuh canda dan ledekan. Yang tak muncul di teks selama chatting dengan koneksi byar-pet adalah galau saya. Ada semacam rasa bersalah atau apa. Mereka seolah hadir senyatanya. Aneh, padahal ketika bertemu di dunia nyata kami santai saja. Maafkan saya teman-teman.

*) Tiba-tiba saya ingat tentang keluarga Darmawan Supratisto (supratisto.com), peserta yang menjadi “juara” dalam sebuah gelaran kami. Di kemudian hari, pada suatu nahas, seisi rumah terpanggang dalam rumah yang semua jendelanya berjeruji. Mereka mengontrak rumah itu untuk tempat mengungsi selagi rumah asli direnovasi. Keluarga itu punah. Ayah, ibu, dan dua anak…