Banyak orang mengira istilah Mak Nyuss gara gara celotehan Bondan Winarno. Padahal hampir lima belas tahun yang lalu, pakde Umar Kayam sudah sering mempopulerkan ekspresi itu dalam kolomnya di Harian Kedaulatan Rakyat, Jogja.
Saya selalu percaya Mak Nyuss itu baru terasa jika masakan diolah melalui suatu ritual proses memasak. Sesederhana apapun juga. Jadi kalau membandingkan ayam goreng Mbok Berek yang dimasak dengan kayu bakar, terus nunggu matang dua puluh menit, bahkan molor setengah jam. Jelas beda dengan ayam goreng siap saji yang langsung dicemplungkan dalam minyak panas bersuhu 500 derajat. Inilah yang dibanggakan oleh waralaba waralaba makanan siap saji. Dalam 2 menit masakan siap matang.

Budaya fast food membuat gegar budaya bagi sebagian orang. Wong waktu saya kecil kalau diajak bapak ibu ke rumah makan, ya harus nunggu. Mungkin di situlah letak nikmatnya, kita sekeluarga bisa ngobrol ngobrol sambil hidung kembang kempis mencium aroma masakan dari dapur restaurant Yong kee depan stasiun kereta Pasar Minggu.
Cilokonya, anak anak saya tidak pernah suka makan di tempat yang harus menunggu. Disamping bosan menunggu. Juga toko buku Gramedia atau Time zone harus buru buru disambangi setelah mengunyah makanan.
Ya sudah , bukankan kita harus mengalah kepada precil precil yang bakal mewarisi kedaulatan keluarga kita ? walau rasanya mendem, kita bergaya menjadi ikon ikon manusia modern menikmati ayam goreng dan kentang.
Rasanya ? Ya nggak mak nyuss..tapi mak shit.

Konon hubungan antar manusia selalu bergerak pararel dengan peradaban jamannya. Seandainya Shakespeare melihat kaos ini, mungkin ia bisa jadi terkena serangan jantung.
“ what a shame ! “ dengan logat Inggrisnya yang kental. Demikian dia misuh misuh.
Ketika ia menggambarkan kisah “ Romeo & Juliet “, kita melihat sebuah arti dari keagungan cinta. Bahasa kerennya ‘ Cinta Sejati ‘, yang tak tergantikan sampai akhir jaman. Dahulu Romeo harus sembunyi sembunyi untuk menemui kekasihnya. Butuh perjuangan yang melelahkan.
Lihat saja film film remaja Indonesia jaman dulu, selalu saja ada adegan wakuncar – wajib kunjung pacar – di malam minggu. Rano Karno duduk sopan menunggu di teras, sambil diperkenalkan pada orangtua Yessy Gusman. Datang jam 7 malam dan jam 10 malam harus sudah pulang.
Kita bisa terbang ke langit tujuh hanya dengan memegang tangan sang kekasih.
Ciuman menjadi barang langka. Kalau kita bisa mencium hanya sebuah sentuhan bibir yang halus dan lembut. Bukan ciuman lidah bergulat lidah, bibir menjalar ke leher dan tangan meremas remas.
Karena cinta hanya untuk cinta. Cinta tidak mungkin dikotori oleh hawa nafsu.
Karena setiap lakon percintaan diakhiri sebuah perkawinan serta malam pertama yang sakral. Indah dan menyentuh. Karena hanya sang empunya cinta yang berhak atas mahkota sang dara.
Tapi mungkin jaman sekarang Romeo terlalu lelah memanjat pilar rumah di beranda belakang rumah Juliet. Daripada tangannya baret baret terkena besi pagar, lebih baik dia chatting dengan gadis gadis bugil di webcam. Rano Karno jaman sekarang juga malas untuk berkenalan dengan orang tua si gadis. Ketemu langsung saja di mall atau janjian di diskotik saja. Jam 12 malam.
Cinta menjadi barang langka, karena cinta telah digadaikan untuk apa yang disebut ‘ make love ‘.
Satu hal lagi, tentu saja Juliet sudah menyiapkan kondom di tasnya. Just in Case.