“ Lho mas barusan aku liat iklane sampeyan ama christin hakim, tumben sutradarane ikut nongol..” Begitu isi sms dari Vivink . Juga YM dari Tia . Surprise karena muka jawa ini ikut satu frame main film iklan.
Yang jelas ini bukan sekadar ikut ikutan Quentin Tarantino yang suka mendadak jadi cameo nongol di filmnya sendiri. Ini hanya impian ingin mengadu acting dengan bintang legendaries, magmanya perfilman Indonesia – Christine Hakim . Walau sekejap.
Dalam Film iklan lagi .
Ternyata acting itu susah. Selama ini saya sok tahu , marah marah, memberi gambaran begini berakting begitu berekspresi, jangan over.
Yang jelas saya yang beradegan. Saya yang juga meng cut sendiri.
Simpel.
Selesai pengambilan gambar, mbak Christine nyeletuk.
“ seumur hidup baru kamu sutradara yang berani marah marah ke saya, walau hanya dalam acting “. Ah,masak iya sih mbak ?
Memang aktingitu susah. Pemain dan bintang film karbitan sekarang banyak yang gagal merogoh karakter yang dimainkan. Pengendapannya kurang, demikian Mas Slamet Rahardjo bilang disela sela sebuah festival film. Kunci sebuah acting yang bagus adalah jangan berakting didepan kamera. Jangan pura pura menjadi bajingan. Jadilah bajingan.
Saya tidak mau memikirkan menjadi aktor. Biarlah saya menjadi orang dibelakang layar. Suatu impian menjadi popular tanpa harus menjadi bintang film.
Mudah mudahan nanti ada sutradara gila yang mau mengisahkan jalan hidup saya.
Ketika saya memasuki Circle Key Jl. Cikajang , dekat Pasar Santa. Para pemuda pemudi generasi penerus bangsa yang leyeh leyeh di lantai teras - sambil makan kacang dan bergaya minum bir kaleng - melirik tersenyum ke saya. Ini mungkin karena kaos yang saya pakai. Tentu saja kaos Vegetarian Club ini bukan kaosnya Sophia Latjuba yang baru baru saja memproklamirkan sebagai pemakan non daging.
Ini kaos yang saya beli di Bali, persis sebelah restaurant di legian yang menawarkan menu Mushrom bali yang tersohor itu.
Jangan jangan remaja circkle key tersebut menduga saya sebagai pemakai. Mungkin mereka ingin bertanya “ Ada barang nggak ? “.
Bagi sebagian kalangan pengguna barang ini, ada rasa kebanggaan.
“ Kami pemakai hasil alam, tumbuh tumbuhan bukan barang racikan kimia atau alkohol “
Saya mengakui memang pernah mencicipi asap ini.
Waktu itu di padepokan seniman besar. Disana ada musisi besar, konglomerat dan ada ustad besar juga.
“ Lho ustad kok nyimeng ? “
Sudah tidak usah buat gossip, yang jelas seingat saya rasanya biasa saja seperti rokok dan sepertinya saya jadi senang tersenyum senyum saja. Itu saja.
Sementara saya kini menikmati barang ini hanya di restaurant Aceh – sebagai campuran ramuan bumbu - di Bendungan hilir yang rasanya benar benar ‘come fly with me ‘.
Kaos ini memang sudah lama., yang muncul pada masa masa reformasi 1998 – 1999. Sudah turun pangkat menjadi baju tidur, karena memang enak. Bukan karena serasa mengeloni mbak tutut atau memimpikan eyang Soeharto. Tapi memang gambaran yang ada di sini menjadi tuntuan refleksi sebuah jaman. Jangan salah bahwa hampir sepuluh tahun itu tuntutan masih terus relevan. Sampai hari ini. Ketika suara suara keras meminta proses hukum terhadap Soeharto beradu gempita dengan suara suara yang meminta agar ia dimaafkan.

“ Saving Private Asset “ yang dibuat oleh sebuah lembaga Nirlaba KKN – Kaos Kritis Nasional memang menjadi potret buram negeri ini. Sebuah negeri ketoprak yang penuh dengan adegan sandiwara nggak mutu.
Saya tidak yakin kalau mereka yang mendisain ‘ Kaos Kritis Nasional ‘ masih eksis hari ini. Jangan jangan mereka sudah tidur nyenyak menjadi anggota DPR setelah sukses menggulingkan orde baru. Sama tidak yakinnya kalau penyelesaian kasus Hukum Soeharto akan memuaskan rakyat. Wong, Jaksa Agung sudah menghadap keluarga Cendana dan menjanjikan penyelesaian ‘ win win solution ‘.
Maksudnya ????
Kaos ini dibeli di kawasan wisata Pat Pong - Bangkok, yang terkenal dengan tempat tempat atraksi bugil aneh bin ajaib. Membuat teringat dengan dr.Naek L Tobing. Katanya “ jika anda berhubungan badan dengan pasangan anda, bersikaplah bebas dan liar “. Intinya anda anda jangan sok jaim. Toh, sepanjang itu halal dan dengan pasangan sendiri, kenapa harus malu malu.
Dengan kata lain ‘ animal behaviour ‘ bisa menjadi acuan. Kadang sifat itu bisa muncul dan sah sah saja ketika kita melakukan ‘ intercourse ‘.
Manusia suka terlalu melebih lebihkan dengan bahasa eufemismenya. Bersetubuh kok di bilang ‘ make love’. Padahal bahasa setempat ada yang bilang ngewe, ngemprut, tungs, bersetubuh, atau bikin anak. Ya, bikin anak, atau making kid. Mungkin dengan bungkus kata ‘ love ‘atau cinta membuat kegiatan ini sepertinya sopan.
Sementara yang tahu batas sopan itu khan anda anda sendiri. Di dalam kamar sendiri yang terkunci rapat. Apalagi kalau sudah punyak anak, pasti kegiatan ini menunggu mereka tidur dulu. Aman terkendali.
Jadi mau coba kamasutera, kamandaka atau kama kama kamelion yang silahkan. Sepanjang muhrim, halal dan tidak melukai salah satu pasangan. Go ahead. Making baby yeah yeah…
Wong babi aja yang inut imut sambil pringas pringis bisa bilang “ making bacon ! “
Sepanjang perjalanan karier saya, tidak pernah saya merasa dredeg, ketakutan seperti yang baru saya alami kemarin. Sebagai satu diantara dua juri ( bersama pak Joko Lelono, penulis cerita anak anak jaman baheula dan pakar periklanan saat ini ) mengurusi lomba iklan layanan masyarakat – Global Warming yang diselenggarakan Yayasan Seni Estetika dan Teknologi bersama Sinar Mas Forestry. Saya diwajibkan datang ke Blitz Megacineplex untuk menghadiri pengumuman dan penganugrahan hadiah.
Biasanya acara seperti ini agak santai dan tidak terlalu formal.
Jadilah saya memakai kaos nyeleneh ini.
Ternyata setibanya di sana, saya harus ikut duduk dalam konperensi pers di hadapan para wartawan dan jurnalis. Mak gelosor saya hampir ndeprok ketakutan. Bagaimana tidak ternyata saya akan duduk bareng Garin Nugroho, Pak Sarwono Kusumaatmaja, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar, Pak Emil Salim dan petinggi petinggi kelompok usaha Sinar Mas. Sementara mereka kalau tidak pakai jas, ya pakai batik. Garin Nugroho sendiri memakai baju hem putih.
Sopan dan proper. Lha Saya…” Oral Me “ oh no !
Panitia juga kaget melihat kaos yang saya pakai. Saya hanya misuh misuh
“ Kenapa nggak bilang kalau ada Menteri segala ? “
Bisa bisa para wartawan akan terbelalak, jangan jangan nanti malah di zoom in sama kameramen TV.
Keringet segede gede jagung bercucuran. AC yang dingin mendadak seperti dalam oven saja. Buru buru saya sms Pak Joko terus. Terus berulang ulang. Pak dimana ? Buruan Pak. Saya telpon dia untuk cepat cepat datang menggantikan saya.
“ Wah saya agak telat mas “
Tambah panik. Saya lari dan menunggu dia didepan lift. Sambil sebisanya ngumpet dulu.
Akhirnya Pak Joko muncul, dan namanya orang bidang kreatif, ya ternyata dandanan dia juga nyeleneh. Baju hem putih, celana putih dan memakai jas semi blazer warna coklat.
Tapi setidaknya masih beradab.
Bersama panitia langsung saya geret dia. Mak cengkiwing ke ruang konperensi pers.
Akhirnya saya selamat dari kehebohan yang mungkin timbul gara gara kaos Oral Me.
Ternyata mendayagunakan Oral Me memang tidak boleh sembarang tempat !
Its very personal, indeed..