|
Agustus 04, 2008
Filed Under (Hadiah) by bangsari
Entah berapa banyak gratisan yang saya dapat. Belum pernah saya hitung sampai sekarang. Tapi kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga. Mulai dari jas (sekarang sudah 3 stel), sepatu, dasi, kemeja, liburan plus akomodasinya, hingga undangan makan. Tapi dari semuanya, yang paling sering saya terima adalah kaos. Mungkin kalo dihitung, sudah lebih dari 100 dalam 2 tahun terakhir saya di Jakarta. Beneran! Lha, gimana ngga banyak, dalam beberapa event, saya sering diserahi beberapa buah sekaligus. Bahkan pernah terjadi saya dikasih 10. Titip untuk teman-teman BHI, kata panitianya. Selain itu, teman-teman sepabrik juga seringkali memberi oleh-oleh kaos sesudah melakukan perjalanan baik dalam maupun luar negeri. Dus, lemari kecil saya di kos lebih banyak diisi barang-barang gratisan daripada beli sendiri. Untungnya (orang jawa memang selalu beuntung. :P), kos saya adalah tempat berkumpulnya banyak orang. Jadi, saat membutuhkan baju ganti, mereka bisa mengambilnya sendiri. Tak jarang saya sampai lupa saat ada teman yang mengembalikannya lagi. hehehe Catatan: Maaf, tulisan ini tidak bermaksud untuk pamer. Karena saya wong ndeso, jadi ya masih gumunan. Sebenarnya lebih karena itulah cara saya mensyukurinya. Hatap maklum.
Comments:
5 Comments posted on "Tuk-tuk: taksi Thailand rasa bajaj"
iway on Agustus 4th, 2008 at 14:15 #
wong sugih emang bahasanya lain
mpokb on Agustus 4th, 2008 at 14:20 #
gratisan itu nggak apa2… namanya masih ada rejeki, bung ipul. yg bahaya gratifikasi kayak orang2 senayan itu lho
mpokb on Agustus 4th, 2008 at 14:22 #
tambahan… gambar kaosnya jadi lupa dibahas yak hehe.. apa tuktuk pakai mode getar juga?
bangsari on Agustus 4th, 2008 at 15:04 #
@iway: hayyah… @mpokb: terus terang saya kurang paham. soalnya cuma dikasih doang sih. kata si gola gong sih, tuk tuk sih ga jauh beda ama bajaj.
Hedi on Agustus 5th, 2008 at 00:52 #
jadi, kaos tuk tuk itu gratis atau sampeyan baru pulang dari bangkok? Post a comment
|
|