Archive for April, 2008
April 26, 2008
Filed Under (Hadiah, Penuh kenangan) by Paman Tyo
Kaos ini masih ada. Kemarin saya temukan di lemari lalu saya foto. Baru saya pakai sekali, waktu acara berlangsung, lima tahun silam. Ukurannya kelewat ngepres di badan. Ini hanya satu dari sejumlah atribut dalam gelaran di beberapa kota yang pernah dibikin oleh (eks-)kantor saya. Warna oranye saya suka. Cerah. Optimistis dan aktif, kata entah siapa. Tapi kemarin kaos ini menjadi penebal melankoli. Untuk pertama kalinya sejak kami bubar dan terdiaspora tahun lalu, beberapa teman mengajak saya konferensi di Y!M. Reuni maya penuh canda dan ledekan. Yang tak muncul di teks selama chatting dengan koneksi byar-pet adalah galau saya. Ada semacam rasa bersalah atau apa. Mereka seolah hadir senyatanya. Aneh, padahal ketika bertemu di dunia nyata kami santai saja. Maafkan saya teman-teman.
April 21, 2008
Filed Under (Penuh kenangan) by OblongMan
Yang ini juga dari rumah desain Le Bo Ye di Kemang, Jakarta Selatan. Masih tentang korek api klasik yang pernah ada di Hindia Belanda. Bos Le Bo Ye, yaitu I. Hermawan Tanzil, memang kolektor produk cetakan jadul. Kaos ini berbahan katun agak tebal, nyaman, warnanya krem. Sayang harga kaos-kaos eksklusif itu di atas Rp 75.000…
April 20, 2008
Ini kaos dari Budiwijaya, blogger yang aktivis Linux dan mangkal di HiTech Mall Surabaya. Budi adalah arek Suroboyo ketiga yang saya kenal setelah Fahmi (ini anak emang top!) dan kemudian Andry (tapi saya jumpa dia pertama di Jakarta), pada 2006. Sebelum ketemu muka, saya dan Budi sudah ber-SMS-an. Saya, saat itu, belum di blogombal.org. Masih beralias begitulah. Setelah jumpa Budi, esoknya saya jumpa Nina Ulet Bulu. Kaos ini, bersama kacang dari Madura, adalah sangu dari Budi ketika saya akan kembali ke Jakarta. Sebelumnya kami berboncengan muter-muter malam hari, sampai menonton wayang kulit segala. Ngapain saya di Surabaya? Ehm, bikin workshop untuk ngeblog. Mentor utamanya adalah Erwin Sutomo (saat itu masih di blogspot) Dan sungguh pengecut, saat itu saya juga cuma nonton, bahkan Erwin pun tak tahu bahwa saya seorang blogger. Budi pun tidak membukakan rahasia itu ke sejawatnya yang sealma mater! Menyenangkan sekali bekerja sama dengan teman-teman Stikom, yang kampusnya pernah saya sambangi itu.
April 20, 2008
Filed Under (Hadiah) by Paman Tyo
Kaos ini adalah buah tangan Didats ketika dia masih memburuh di Bali, tahun 2006. Sebelumnya dia kirim SMS menanyakan ukuran. Kemudian pada suatu hari kerja singgahlah di ke kantor saya di Kebonjeruk. Saat itu pula saya tunjukkan rancangan layout untuk blog di rumah baru dengan domain sendiri. Kisah selanjutnya sudah jelas. Perancangan dilakukan bersama, di Jakarta dan Denpasar. Didats adalah satu dari sedikit blogger yang saya jumpai, bahkan saya mintai tolong, ketika saya belum berani menyatakan diri. Ketemu dia pertama itu singkat, tahun 2004/2005, di tangga teras kantornya, Jalan Jenderal Sudirman. Untuk sebuah acara, akhirnya Didats dan Golda dan Hericz mau turun tangan. Acaranya? Workshop untuk calon bloggers di Plaza Semanggi (2005)! Saya? Sebagai si “kere kemplu” ya cuma nonton. Pengecut bangetlah. Ketika kontroversi RUU Antipornografi mengemuka, dan terkabar Bali akan memisahkan diri, maka saya kirim merek kaos ini ke teman saya orang Bali. “Bli, dari dulu Bali emang separatis kan?”
April 19, 2008
Sepuluh tahun lebih saya bekerja di perusahaan penerbitan itu tak pernah ada yang tahu (tepatnya: peduli) ulang tahun saya. Itulah sebabnya saya selalu aman dari todongan. Pernah saya sudah menyiapkan uang sekadarnya, ternyata teman sekantor tak tahu. Tapi rasa aman itu akhirnya tamat. Pada ultah saya, tahun 2002 (ya, enam tahun lalu!), saya datang ke kantor sore. Memang ada niat mentraktir sekadarnya. Saya bilang, “Cah, ntar kita keluar, makan bareng yuk.” Tak ada tanggapan. Pada cuek. Ada yang terus ngegame (itu bagian dari pekerjaan). Ada yang tetap chatting (itu juga pekerjaan). Ada yang dengerin musik. Ada yang tidur. Yo wis, pikir saya. Kalau ndak mau ya syukur. Lantas saya keluar, ke kamar kecil. Terus ke unit lain entah ketemu siapa untuk sebuah urusan. Lalu saya kembali ke kantor kecil yang berjejal itu. Ketika saya masuk terdengarlah paduan suara, “Happy bitrhday Mase!” Mereka sudah pakai seragam berupa kaos baru. Lalu ada upacara kecil, dan saya menerima dua potong kaos (lengan pendek dan lengan panjang). Kaos itu khusus dibuat untuk merayakan ultah saya. Bikinnya pun jauh, di Temanggung, karena orangtua salah satu awak redaksi punya usaha konveksi. Saya tak pernah tahu persekongkolan itu, padahal ruang kami sangat sempit. Karung berisi kaos datang pun saya tak tahu. Lantas bagaimana kasak-kusuk persiapannya? Via messenger dan bisik-bisik saat saya tak berada di kantor — misalnya ketika ke kamar kecil. Salah satu kaos itu saya bingkai. Satunya masih saya pakai. Kaos itu bergambar seluruh awak redaksi. Terima kasih kawan-kawan! |
|