|
Maret 09, 2008
Filed Under (Biasa) by bangsari
“Besok mau oleh-oleh apa?”, tanya rekan kerja saya di kantor yang hendak ke luar negeri. Begitulah. Oleh-oleh seolah menjadi barang wajib jika bepergian ke luar kota. Sepertinya menjadi bagian dari biaya perjalanan itu sendiri. Mungkin lebih tepat disebut pajak domestik. Bagi saya yang tak pernah membiasakan oleh-oleh dari kecil, hal ini sangat menggangu. Menurut saya, oleh-oleh adalah bukti bahwa masyarakat kita cenderung menuntut atas orang lain yang lebih mampu. Mereka yang tak membawanya sering dianggap tidak umum, sebutan lain untuk pelit. Diambil dengan scanner UMAX Astra 4100
Comments:
4 Comments posted on "Oleh-oleh dari Shanghai"
Paman Tyo on Maret 9th, 2008 at 22:46 #
dititipi oleh2 ogah, ditawari oleh2 sungkan, tapi kalo dapet bersyukur. ndak apa-apa kok, dik ipoul sudah jujur. btw, jelasin dong teksnya itu apa.
Hedi on Maret 10th, 2008 at 11:11 #
dasar pelit
bangsari on Maret 11th, 2008 at 10:29 #
@paman tyo: wekekek. merasakan juga ya paman? oho yo, arti tulisane: “jadi orang itu jangan susah”. hehehe @hedi: wakakakak
lidya on Maret 21st, 2008 at 23:01 #
halo paman, ‘met kenal, mo ikut nimbrung dong… Post a comment
|
|