|
Februari 16, 2008
Filed Under (Hadiah) by Ndoro Kakung
![]() Gerakan open source mungkin bisa disebut sebagai aksi melawan dominasi, monopoli, dan modal raksasa. Para pendukung gerakan ini menolak ketergantungan dan kebuntuan. Tapi, sejujurnya, saya ndak tahu betul apa itu open source. Mungkin ia sebuah alternatif. Barangkali juga solusi. Pendeknya, menolak merek terkenal dari negeri adi daya itu. Saya cuma tak habis pikir, mengapa komunitas gerakan ini merasa harus berada di bawah tanah, mempraktekkan taktik gerilya? Katanya open, terbuka, kenapa gerakannya seolah-olah tertutup? Ah, entah, saya tak begitu paham urusan ini. Yang jelas saya merasa beruntung bertemu salah satu aktivis komunitas open source dalam sebuah tikungan kehidupan. Malam itu, di sebuah kedai poci unik, di pojokan kawasan Condong Catur, Yogyakarta. Hujan gerimis. Malam menjelang dini hari. Kami bertukar cerita, ditemani teh poci rasa jeruk manis. Sesekali kami juga bertukar gunjingan di bawah cahaya remang-remang. Sampai akhirnya ia mengeluarkan sepotong kaos. Sebuah kado. “Saya mau bayar utang saya ke sampean dulu,” kata anak muda yang punya nama kode Starchie itu.
Saya terpana, merasa mendapat sebuah kehormatan. Terima kasih, Ki Sanak. Semoga sampean beroleh berkah sebagai balasan atas kado ini.
Comments:
1 Comment posted on "Open, tapi Tertutup"
ebeSS on Februari 17th, 2008 at 21:25 #
Malam itu, di sebuah kedai poci unik, di pojokan kawasan Condong Catur, Yogyakarta. Hujan gerimis. Malam menjelang dini hari. “lha itu sudah cenderung tidak terbuka . . !!! Post a comment
|
|