Februari 01, 2008
Filed Under (Hadiah) by Paman Tyo

Kaos ini sudah lama, saya dapatkan tahun 2000, oleh-oleh dari istri. Dia mendapatkannya di toko Tony Tantra, Bali. Saya suka gambarnya yang sangat “ngairbrush”. Lebih dari itu kaos ini berbahan katun yang nyaman.

Saat itu, menjelang akhir 90-an, simbol bintang merah memang hidup lagi, jadi ikon di mana-mana. Bahkan Calvin Klein pun mencomotnya untuk beberapa serial kaosnya.

Bintang merah, pada suatu masa, adalah bagian dari alam perlambang kaum proletar. Kemudian segala sesuatu yang popular (artinya: merakyat) itu terasa romantis, eksotis, dan sexy. Maka tak mengherankan bila kemudian kelas makmur pun mengadopsi gaya kekere-kerean itu.

Pada gilirannya persoalannya bukan spirit kere, tapi romantisisme melawan apa yang mapan, yang kadung kuat, dan dianggap tak terkalahkan. Itu bisa negara, bisa korporat, bisa juga dominasi merek global.

Muluk-muluk? Merek-merek mondial mengopernya. Che Guevara dan Mao bisa dicomot untuk fashion dan kafe. Yang kere tinggal beli bajakannya, tak peduli soal hak atas karya cipta dan royalti, karena yang dari rakyat sebaiknya kembali ke rakyat. Yang (sok) berduit? Tertawa sinis.

NB: Mana yang lebih mengesalkan, kere yang sok kaya atau sugih yang sok melarat?


Comments:
5 Comments posted on "Bintang Merah yang Kiri Kekere-kerean"
Hedi on Februari 1st, 2008 at 17:50 #

yang lebih mengesalkan? yang kedua, Paman. Kalo yang pertama, bisa dimaklumi, poverty syndrome :D


Dony on Februari 2nd, 2008 at 14:19 #

Jangan2 sampeyan termasuk “orang kiri”, hehe
Terlepas dari itu semua, desainnya memang bagus, benar2 terlihat timbul


yus aja on Februari 2nd, 2008 at 20:05 #

lah saya malah cari kaos bergambar paman pake baret kayak Cak Gofara itu..


iway on Februari 4th, 2008 at 08:43 #

bener-bener kere, nyari kaos aja di bali :D


[…] cukup mengulangi kaos bintang dari Bali. Intinya, pada penutup abad lalu itu simbol bintang jadi sexy lagi sehingga menjadi semacam ikon […]


Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: