Archive for Februari, 2008

Februari 18, 2008
Filed Under (Kebanggaan, Penuh kenangan) by Ndoro Kakung

Suatu senja di Himalaya. Enam perempuan merayap di atas hamparan es menuju puncak Annapurna IV (7525 meter di atas permukaan laut). Angin mendesir-desir. Salju turun berbutir-butir. Langit biru kejam, tak menyisakan awan sepotong pun.

Untung tak dapat diraih, malang siapa yang mau. Setelah lelah menjejak, bertarung dengan ego, hanya satu perempuan yang berhasil menggapai puncak Annapurna IV. Lima yang lain tak cukup beruntung.

Seorang perempuan, pemimpin tim ekspedisi para perempuan itu, lalu mengisahkan perjalanan 18 tahun lalu itu hampir tiap malam pada kedua anaknya menjelang tidur. Ada bangga di wajahnya. Ada haru di matanya.

Gunung adalah obsesinya sejak kecil. Perempuan itu menyukai gunung karena justru di puncak tak ada apa-apa. Cuma ada senyap. Kebebasan. Dan anak-anaknya tahu itu.

Perempuan itu pun bercita-cita suatu saat kelak, ia akan membawa anak-anaknya kembali ke Himalaya. Ia ingin mengantarkan anak-anaknya menyentuh atap dunia. Read the rest of this entry »



Februari 16, 2008
Filed Under (Hadiah) by Ndoro Kakung

Gerakan open source mungkin bisa disebut sebagai aksi melawan dominasi, monopoli, dan modal raksasa. Para pendukung gerakan ini menolak ketergantungan dan kebuntuan.

Tapi, sejujurnya, saya ndak tahu betul apa itu open source. Mungkin ia sebuah alternatif. Barangkali juga solusi. Pendeknya, menolak merek terkenal dari negeri adi daya itu.

Saya cuma tak habis pikir, mengapa komunitas gerakan ini merasa harus berada di bawah tanah, mempraktekkan taktik gerilya? Katanya open, terbuka, kenapa gerakannya seolah-olah tertutup? Ah, entah, saya tak begitu paham urusan ini. Read the rest of this entry »



Februari 15, 2008
Filed Under (Kebanggaan, Kiriman pembaca) by Paman Tyo

kiriman dari miss golda, warga kampung gajah:

critanya gini. pas pesta blogger kemarin, critanya Enda mau ngasi 10 orang tempat duduk gratis (lainnya klo mau dateng, bayar) untuk anggota id-gmail. nah, aku udah bilang mau ikutan. eh pas seminggu sbelum hari h, baru tau klo tanggal segitu, aku pas ke yugo.

aku tambah keki pas ternyata anak2 yg udah siap dateng malah sampe bikin kawos id-gmail sendiri, limited edition pulak. kawosnya persis kyk yg di foto itu (foto peserta yg foto paling atas).

nah pas udah nyampe jakarta, scara aku kerja di bagian pembuatan kawos dan boneka, mustinya it’s so easy aku minta salah satu vendor ku bikin kawos buatku.. scara mreka suka berlomba2 ngasi hadiah.. hahaha.. yasud, aku minta dibuatkan, aku sampe minta ke saylow file logo hasil buatannya itu yg hi res, trus aku kasi deh ke vendorku. ngga brapa lama (semingguan lah) udah jadi. trus pas aku pake, ih bagus.. soalnya model jahitan kaosnya nyontek kaos zara, bukan kaos standart sperti yg dipake anak2 yg ke pesta blogger itu..

hihihi.. intinya bikin mreka keki.

trus goblognya, pas aku sehabis foto itu, trus aku pamer kan ke milis.. eh aku salah posting foto, malah ada 1 fotoku yg pake baju seksi yg kekirim.. dan itu pun baru nyadar stelah mreka2 pada komen. *njrit*.. tapi yasudah kadung gmana.. ya aku posting kembali foto kaos yg sbenernya (ya yg aku kirim ke om tyo tadi pagi).

getoo..

skarang pake kawos ini termasuk dlm pemesanan kawos2 id-gmail.. banyak yg mau ternyata. aku bilang ke vendorku, cetakan film sablon nya jangan dibuang, karena temen2ku mau pesan.. hahaha..

note: bukan sablon siy sbenernya, tapi sablon foil motif rainbow :D



Februari 12, 2008
Filed Under (Biasa) by Paman Tyo

Dulu ada pesohor hiburan namanya Che Chekirani. Saya pikir dia revolusioner, seperti Che Guevara maupun Ciehhh Gueparah. Ternyata entah. Tapi sebetulnya apa sih ukuran revolusioner? Cuma antikemapanan? Anti-orang-kaya?

Kalau ukurannya senaif itu maka tanggapan balik yang naif juga bisa mementahkan. Misalnya: apa seorang penikmat cerutu (yang setelah beredar luar Kuba pasti mahal) dan penyuka rolling thunder dengan brompit udhuk, berasal dari kelas makmur pula, bisa dibilang telah menyatu dengan para kere yang haus perubahan?

Lupakan sanggahan ngawur yang berpanjang kata itu. Lebih menarik cerita tentang kaos ini. Saya mendapatkannya delapan tahun silam di sebuah kios di Pasar Salatiga. Harganya Rp 25.000. Ajaib juga, saat itu saya belum terlalu gendut. :D

Mau gendut atau langsing (dari sisi pemakai), jika menyangkut Che maka urusannya adalah ikon yang dikomersialisasikan. Artinya, di mata pedagang dan konsumen, sosok Che tak beda dari Winnie the Pooh atau Hello Kitty. Persoalan berikutnya tinggal dijual mahal di tempat mentereng atau dijajakan murah di tempat kumuh.

Sekarang kaos itu dipakai oleh anaknya Ebess. :)



Februari 12, 2008
Filed Under (Aneh) by Paman Tyo

Mulanya anak ini tak peduli dengan orang sekitar yang membaca kaosnya. Tapi ketika akan difoto dia malu. Lantas temannya, sesama pedagang makanan di dekat Taman Menteng, meyakinkannya sambil memegangi dia. Maka inilah yang terjepret oleh setelah kopdar lanjutan selepas kulonuwun dagdigdug.

Padahal kalau soal naksir orang yang sudah punya pacar, mestinya bukan masalah. Cuma naksir (dipendam dalam hati pula), bukan mengganggu apalagi memaksa, apa salahnya, kan?