Archive for Januari, 2008
Januari 17, 2008
Filed Under (Penuh kenangan) by Iman Brotoseno
![]() Sepanjang perjalanan karier saya, tidak pernah saya merasa dredeg, ketakutan seperti yang baru saya alami kemarin. Sebagai satu diantara dua juri ( bersama pak Joko Lelono, penulis cerita anak anak jaman baheula dan pakar periklanan saat ini ) mengurusi lomba iklan layanan masyarakat – Global Warming yang diselenggarakan Yayasan Seni Estetika dan Teknologi bersama Sinar Mas Forestry. Saya diwajibkan datang ke Blitz Megacineplex untuk menghadiri pengumuman dan penganugrahan hadiah. Jadilah saya memakai kaos nyeleneh ini. Panitia juga kaget melihat kaos yang saya pakai. Saya hanya misuh misuh
Januari 16, 2008
Filed Under (Plesetan) by Iman Brotoseno
Banyak orang mengira istilah Mak Nyuss gara gara celotehan Bondan Winarno. Padahal hampir lima belas tahun yang lalu, pakde Umar Kayam sudah sering mempopulerkan ekspresi itu dalam kolomnya di Harian Kedaulatan Rakyat, Jogja. ![]() Budaya fast food membuat gegar budaya bagi sebagian orang. Wong waktu saya kecil kalau diajak bapak ibu ke rumah makan, ya harus nunggu. Mungkin di situlah letak nikmatnya, kita sekeluarga bisa ngobrol ngobrol sambil hidung kembang kempis mencium aroma masakan dari dapur restaurant Yong kee depan stasiun kereta Pasar Minggu.
Januari 16, 2008
![]() Kaos ini kocak dan ngeledek semua bloggers. BHI, pembuatnya, memang kreatif. Saya nggak tahu sudah berapa potong yang terdistibusikan. Pemakainya, tentu saja, ya kaum bloggers yang diledek dan meledek diri sendiri itu. ![]() Tentang BHI, bagi saya, kalau mau pakai istilah gagah, adalah “fenomenal”. Memang di setiap kota, dan di antara perkawanan bloggers, selalu ada komunitas dan ajang kopdar; tapi BHI memberikan sesuatu yang lain. Kumpulan orang cangkruk (kongko) ini mengambil tempat di depan Plaza Indonesia, di trotoar. Siapa pun boleh datang dan bergabung. Beberapa bloggers luar kota menjadikannya sebagai target kunjungan. Belum jadi blogger kalau Anda ke Jakarta tanpa menyambangi mereka. Welcome to BHI! ![]()
Januari 16, 2008
Filed Under (Lucu) by Paman Tyo
Secara grafis saya terkesan oleh olahan tipografinya. Sederhana tapi nyeni. Hanya berupa teks hitam di atas kain putih. Sangat biasa untuk kita yang terbiasa dengan kertas dan tinta hitam. Saya pernah mengeposkannya ke sana. Saya membelinya si Solo, saat liburan Juli tahun lalu. Harganya Rp 30.000, karena Matahari sedang obral dagangan. Siang beli, sorenya langsung saya pakai. Kadang kaos ini saya pakai bepergian, kadang juga untuk tidur. Biar merasa damai di mana-mana, gitu lho. ![]() NB: “kk” atau “adj” ya? Lihat gambar…
Januari 16, 2008
![]() Sabar, sabar, sabar. Jangan keburu berkerut kening. Saya tak hendak mengadu domba dengan memanfaatkan sentimen wilayah peka. Nah kaos berkaligrafi Arab (tapi saya tak dapat membacanya) itu adalah bingkisan dari teman di kantor lama, namanya Hoho, sebagai oleh-oleh setelah mengunjungi tempat ziarah orang salibis eh palang eh Nasrani. Teman saya, seorang santri, namanya Mas Poniman, sambil senyum-senyum berkomentar dalam dialek Tegal, “Bos, kenapa juga yak itu kaos nyebut-nyebut Babe segala?” Lha mana saya tahu, kata saya. Saya cuma dikasih tahu oleh orang lain bahwa kaligrafi itu adalah Doa Bapa Kami. Bagi saya tak soal kalau idiom kristiani memakai bahasa Arab. Bukankah di Timur Tengah pun ada orang Nasrani? Itu sama saja dengan ekspresi keagamaan secara verbal dengan bahasa (dan aksara) lain kan? Maka entri kaos yang ini mestinya dijuduli “Kaos bebas-SARA”. ![]() |
|