Archive for Januari, 2008

Januari 31, 2008
Filed Under (Infotainment) by Iman Brotoseno

Kaos ini dipakai Maia sewaktu pers conference sehubungan dengan pembentukan group barunya setelah lengsernya pasangan duetnya. “ Im the Real Queen “.
Jadi ingat kejadian hampir setahun lalu. Saat itu sore hari, saya baru selesai syuting. Cape dan sambil istirahat di teras villa Kaliyana – Kaliurang bersama Rieke dan beberapa crew inti. Tiba tiba mak jendul tergopoh gopoh datang sorang wanita bening, berkacamata hitam tanpa polesan make up, sambil menggembol bungkusan baso. Dia Maia, yang langsung nyerocos mengenai keruwetan rumah tangganya.
Sambil menguyah baso yang dibawa, saya membayangkan sungguh seperti drama sinetron yang biasa kita lihat.
Ditampar suaminya. Ditampar mertuanya. Rieke yang menjadi anggota Komisi perlindungan wanita seketika mendapat semangat untuk memberi jasa counseling gratis.
Maia terus saja marah marah.
“ lelaki nggak tahu diri, cewe kayak gitu kok diembat “ – maksudnya salah satu personil group binaan sang suami.
Lalu pembicaraan masuk ke teritori Mulan kwok ( waktu itu masih pakai kwok ). Wah asyik nih begitu saya ngunandika. Pura pura tak peduli.

Beberapa bulan demikian, setelah goro goro yang tak ada juntrungannya. Kok, ada usulan perdamaian dari Maia – begitu saya baca di tabloid. Dengan syarat, Dhani harus memecat Mulan Jamelaa, dan juga personil Dewi Dewi.
“ Im the Real Queen “. Demikian Maia menegaskan positioningnya.
Ya sudah, kita harus menghornati hak dan aspirasi Maia. Saya sih setuju aja, bahwa hanya ada satu ratu – satu Queen – dalam kehidupan seorang laki laki. Kalau laki laki terlalu pengecut untuk menyatakan komitmennya. Ia harus berani juga menentukan pilihan wanita yang dicintai.
“ Lho Mas Ngomong ngomong ngapain Maia datang ke Kaliurang tempo hari ? “.
“ Apakah dia juga ikut syuting sampeyan ? “.
Tidak kok, nggak ada urusannya sama produksi saya. Tapi dia ikut nginap di villa itu.
Sudah jangan gossip. Dia datang ada urusan lain. Seorang Queen bisa melakukan apa yang ia mau kok.



Januari 29, 2008
Filed Under (Biasa) by Paman Tyo

Akar kekerasan itu bagian dari pohon apa? Biarlah Pak Fromm dan Mas Pustaka Pelajar yang menjawab karena merekalah yang menjual kaos ini. Ah, yang bener?

Hehehe, kaos yang kini sudah kumal ini saya dapatkan di sebuah toko buku di Sagan, Yogyakarta, tahun 2000. Nama tokonya ya Pustaka Pelajar seperti nama penerbitnya. Penerbit buku dan kaos ya dia.

Kalau saya tak salah terka, penerbit dan toko ini adalah kelanjutan dari sebuah kios buku di Sasana Triguna (Shopping Center). Di sana dulu ada los buku murah, baik buku bekas maupun baru.

Salah satu penjual buku baru adalah milik, duh lupa namanya, kalau tak salah Mas Mas’ud. Diskonnya jelas. Umumnya 15-20% dari harga toko. Tak perlu tawar-menawar.

Mas Mas’ud dulunya penggelar buku dagangan di trotoar dekat Purosani. Kemudian dia pindah ke Sasana Triguna. Suatu kali, pada medio 80-an, sambil meladeni pembeli dia bilang, “Saya ini sudah mengalami mobilitas horizontal dan vertikal, Dik.”

Entah apa kata para penginap. Lho? Kalau malam sampai pagi, los buku itu menjadi tempat menginap tekyan, keple, dan kere — pokoknya kaum yang terpinggirkan dalam (atau dari?) tata ekonomi dan sosial kota.



Januari 26, 2008
Filed Under (Penuh kenangan) by Ndoro Kakung

Umur kaos ini sekitar 16 tahun, jauh lebih tua dari anak sulung saya sendiri. Mungkin lebih. Saya tak begitu ingat.

Saya mendapatkannya dari pabrik lama saya, tepatnya tempat saya mencari nafkah ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta ini.

Namanya Majalah Mode. Ini majalah khusus remaja yang pernah menjulang namanya pada akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Hampir semua anak muda kosmopolitan dulu membaca majalah ini. Bukan anak gaul kalau tak pernah baca. Begitu kira-kira kemasyhurannya. Sayang sekarang sudah jadi legenda urban.

Nah, pabrik saya ini dulu sering mengadakan lomba Cover Boy dan Cover Girl yang gemanya masih terdengar hingga sekarang. Beberapa jebolan lomba ini sekarang jadi seleb, misalnya Susan Bachtiar, Ari Sihasale, Dina Lorenza, dan seterusnya. Ah, saya sudah tak kenal lagi, apalagi mereka, hehehe … Read the rest of this entry »



Januari 25, 2008
Filed Under (Kebanggaan, Kiriman pembaca, Penuh kenangan) by Paman Tyo

Pemilik kaos ini seorang dotcomer, salah satu founder dari situs terkenal di Indonesia. Begitu terkesannya dia kepada Yahoo! sehingga sampai memesan tiga potong kaos yang merupakan merchadising dari portal itu.

Kaos-kaos ini sudah berusia delapan tahun lebih. Yang paling lusuh, putih memudar, adalah paling setia karena dipakai untuk tidur.

Dia dulu memesannya secara online, lalu barangnya dipakai sebagai kebanggaan. Kenapa pilih kaos Yahoo!? “Di sini nggak ada punya, hahaha!”



Januari 22, 2008
Filed Under (Kebanggaan) by Iman Brotoseno

“ Lho mas barusan aku liat iklane sampeyan ama christin hakim, tumben sutradarane ikut nongol..” Begitu isi sms dari Vivink . Juga YM dari Tia . Surprise karena muka jawa ini ikut satu frame main film iklan.
Yang jelas ini bukan sekadar ikut ikutan Quentin Tarantino yang suka mendadak jadi cameo nongol di filmnya sendiri. Ini hanya impian ingin mengadu acting dengan bintang legendaries, magmanya perfilman Indonesia – Christine Hakim . Walau sekejap.
Dalam Film iklan lagi .
Ternyata acting itu susah. Selama ini saya sok tahu , marah marah, memberi gambaran begini berakting begitu berekspresi, jangan over.
Yang jelas saya yang beradegan. Saya yang juga meng cut sendiri.
Simpel.

Selesai pengambilan gambar, mbak Christine nyeletuk.
“ seumur hidup baru kamu sutradara yang berani marah marah ke saya, walau hanya dalam acting “. Ah,masak iya sih mbak ?
Memang aktingitu susah. Pemain dan bintang film karbitan sekarang banyak yang gagal merogoh karakter yang dimainkan. Pengendapannya kurang, demikian Mas Slamet Rahardjo bilang disela sela sebuah festival film. Kunci sebuah acting yang bagus adalah jangan berakting didepan kamera. Jangan pura pura menjadi bajingan. Jadilah bajingan.
Saya tidak mau memikirkan menjadi aktor. Biarlah saya menjadi orang dibelakang layar. Suatu impian menjadi popular tanpa harus menjadi bintang film.
Mudah mudahan nanti ada sutradara gila yang mau mengisahkan jalan hidup saya.