25 Juni 2009 @ 9:39
Hadiah, Plesetan | kapstok: Paman Tyo (40 potong) | Rumah asal: Paman Tyo

Masuk? Masup? Entah. Kaos pelesetan ini saya dapat dari Hasan Aspahani, penyair yang bermukim di Batam. Dia percaya akan kata, mantera, dan makna. Maka soal bolak-balik kata bukan soal mainan, tetapi bukti terhadap kesadaran. Apa maksud yang sesungguhnya, dia lebih paham.

tolak puisi angin hasan aspahani



24 Juni 2009 @ 17:33
Biasa | kapstok: Mpok Bina (18 potong) | Rumah asal: Mpok Bina

Kaus oblong bergambal botol yang bertulisan “botol”. Gambarnya jadi unik, justru karena garisnya yang tidak rapi. Buatan entah, dipakai oleh Mpok Lenong. Terima kasih, Mpok Lenong!



11 Juni 2009 @ 17:15
Hadiah, Lucu | kapstok: Paman Tyo (40 potong) | Rumah asal: Paman Tyo

Ini kaos hadiah. Oleh-oleh dari liburan di negeri jiran. Isinya edukatif. Menjelaskan cara kerja mesin bernama komputer. Lantas output atau keluarannya apa? Ah pantasnya kaos ini jadi bonus untuk pendaftar kursus komputer bagi pemula.

kaos komputer



06 Juni 2009 @ 2:52
Aneh, Dewasa, Lucu, Memalukan | kapstok: Paman Tyo (40 potong) | Rumah asal: Paman Tyo

Maka pemilik merangkap pemakai kaos tanpa rangkapan ini mengakuinya di punggung. Emang nggak capek? Kalau lagi nggak mood, atau habis berantem sama lawan main, gimana?

kaos aneh



01 Juni 2009 @ 16:15
Plesetan | kapstok: Mpok Bina (18 potong) | Rumah asal: Mpok Bina

Sekali lagi, kaus oblong dari ojie-oblong, Jakarta. Adakah yang tahu ini pelesetan dari produk apa? Ah, tapi saya bukan mau membahas produk itu. Saya justru ingin bertanya, adakah di antara Anda yang tidak pernah mengenal, memakai, minimal melihat bakiak?

Mengenakan alas kaki yang satu ini memerlukan siasat. Bisa jadi telapak kaki terlindungi dari tusukan kerikil maupun genangan air, akan tetapi kalau keseimbangan tubuh tak terjaga, maka Anda bisa tergelincir bahkan terjungkal. Di rumah salah satu kerabat, bakiak senantiasa terparkir dalam posisi berdiri di depan pintu kamar mandi. Jarang sekali rumah tangga masa kini menyediakan bakiak untuk alas kaki. Bakiak yang bukan alas kaki masih kerap ditemui dalam lomba agustusan. Saya pun pernah ikutan. Sayang, kelompok saya tidak menang karena peserta depan belakang kurang kompak. Duhai Bakiak, salah pijak bikin hati melonjak-lonjak.